Prolog...

In this part of pilgrim, I pick up these scattering notes along the pathway. Whether they are friend’s words or mine that is touching and inspiring. Maybe, in these traced footprints, there are memories worth reflected, there is flame that flare up spirits, and there are inspirations that flashing imaginations. Hope you love reading my notes.

One Minute Wisdom

Spoon boy: Do not try and bend the spoon. That's impossible. Instead only try to realize the truth. Neo: What truth? Spoon boy: There is no spoon. Neo: There is no spoon? Spoon boy: Then you'll see that it is not the spoon that bends, it is only yourself.

School Leadership

Statement of Purpose
By
Agustinus Prih Adiartanto



School as a formal educational institution involves some major elements in its management; the school staff, parents, and the government. The success of education depends on the cooperative work of those elements. Bringing the school’s vision and missions into line, the school leaders (principal-vice principal) and the teachers have to cooperate to serve the students.

Unfortunately, as we can see in many schools, the school’s vision and missions have not been appropriately internalised in the work of the teachers. What mostly happen is that most teachers would slightly know their school’s vision and missions. It seems very unlikely that they appropriately comprehend the school’s vision and mission and eventually translate them into decision-making process, policies issue, and the instructional designs. Consequently, the personal and institutional values do not often get along in good harmony. In other words, the corporate culture at school has not been developed yet.

The question is what makes many school principals fail to bring their schools into better conditions. This phenomenon is easily understood since almost all school principals in Indonesia are assigned to assume the position on the basis of seniority. Little has been done to train future school leaders that are able to anticipate future challenges. Thus, leadership management is carried out without competence, capability, and professionalism.


In many cases, it often happens that the leader cannot find the best solution to various problems quickly and properly. For example, supervision as one of his responsibilities does not work well. Internal supervision plays a major role in enhancing teachers’ performance as well as maintaining school’s effectiveness. When supervision fails, teachers are more likely to work less and less optimally. Even worse, their working performance tends to decrease year by year. When there is no performance appraisal to stimulate them to do their job better, there will be no challenge to work better. The absence of appreciation towards excellent achievement makes the teachers’ paradigm stagnant.

For this reason, the empowerment of the staff, parents, society, and the government becomes the ultimate issue to work on in order to get the institution fully developed. This can be carried out only if the school leaders have enough leadership capacity to make quick, right, and decisive solutions to many problems. When the supervision going well, teachers are motivated to work even better. To carry out the supervision effectively, it’s important to keep all the elements fully well-informed about the supervision instruments.

Being assigned as the vice-principal for curriculum affairs since July 2003, I find that it is not an easy job. Besides the government new curriculum is to be carried out, I also have the school’s vision and mission to be internalised in the curriculum. Consequently, I have to modify the curriculum that brings some administration changes to work on. In addition, the most challenging task for me to do is to bring and to motivate the teachers to adapt their paradigm to the new curriculum.

Four years in this position, I enjoy my job very much and I am glad that in my own way I have brought some positive changes for my school. Through the Indonesian Secondary Education Development Program (ISEDP), I hope I can get more information, experience, and enlightenment from all about school leadership, in order to raise a new spirit in my job to be a better teacher.

Read More..

Keterlibatan Ortu Dalam Pendidikan

Bersama Menatah Kebajikan Khas Siswa

Ag. Prih Adiartanto & J. Sumardiyanta


“Keterlibatan orang tua di sekolah mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap prestasi peserta didik.” Itulah kesimpulan Larry E dan Virginia A. Decker (2003), dalam bukunya Home, School, and Community Partnership. Berdasarkan lebih dari 85 riset ternyata keterlibatan keluarga memberikan keuntungan terhadap keberhasilan peserta didik, kualitas sekolah, dan desain program (kurikulum).

Ada tiga pilar yang berkaitan dengan pendidikan, yakni: orang tua (keluarga), sekolah, dan masyarakat. Orang tua adalah pendidik yang pertama dan utama. Faktanya, sebagian besar waktu hidup anak (lebih-lebih pada masa perkembangan) ada di dalam keluarga dan orang tua adalah pihak yang paling bertanggung jawab.

Seiring perkembangan jaman, peran itu semakin bergeser. Sekolah mengambil alih peran dan fungsi sentral orang tua dalam pendidikan anak. Tugas orang tua direduksi melulu sebagai sumber ketersediaan dana bagi kelangsungan pendidikan. Pragmatisme yang merajalela di pelbagai sektor kehidupan menyebabkan segala urusan pedagogi dibebankan kepada sekolah. Lembaga pendidikan formal, dari level dasar hingga menengah, yang mestinya hanya mengurusi masalah pengajaran dalam arti pengalihan pengetahuan dan keterampilan dari guru kepada siswa dibebani pula dengan persoalan edukasi dalam pengertian etis dan moral. Padahal urusan edukasi mestinya lebih menjadi porsi orang tua di rumah.

Sekolah diam-diam menjadi semacam pande besi (bengkel besi tempa). Para orang tua bisa datang kapan pun mereka suka membawa berbagai bahan logam, dengan segala kualitasnya, seperti lempengan bekas per mobil atau potongan rel kereta api untuk ditempa menjadi pisau, sabit, cangkul, kelewang, dan perkakas lainnya. Sekolah menjadi bengkel jasa tempat orang tua bisa ngadekke (memesan) perkakas yang mereka butuhkan. Asal ada bahan baku dan terjadi kesepakatan harga antara proses jual beli jasa itu selebihnya menjadi urusan bengkel. Para pemesan tahunya segalanya beres. Mereka pulang bisa membawa pisau, sabit, cangkul, atau kelewang. Persoalannya sekolah bukanlah bengkel besi tempa. Sekolah memang harus dikelola berdasarkan prinsip-prinsip manajemen ekonomi moderen seturut hukum pasar. Hukum besi efesiensi ekonomi universal yang tidak bisa ditawar.


Institusi masyarakat yang makin terkotak-kotak dalam sangkar spesialisasi dan diferensiasi rupanya memberi sumbangan besar bagi terjadinya kudeta atau pengambilalihan peran sentral pendidikan dari orang tua ke sekolah. Pendidikan dikotak-kotak ke dalam sangkar formal, informal, dan non-formal. Pendidikan formal yang berlangsung di sekolah dicirikan adanya kurikulum, pembatasan usia wajib belajar, dan pemberian sertifikat tanda kelulusan. Pendidikan non-formal lebih berorientasi ke dunia praktis dunia kerja. Pendidikan ini dijalankan oleh lembaga-lembaga kursus keterampilan. Pendidikan informal dindentikkan dengan keluarga. Pendidikan di sini berlangsung seumur hidup (long life education).

Spesialisasi dan diversifikasi itulah sesungguhnya yang menjerumuskan pendidikan melulu ke dalam urusan pengajaran bukan pendampingan dan pengasuhan. Inilah awal dari proses kelirumologi pendidikan di Indonesia. Pendidikan lalu identik dengan bangku persekolahan. Sekolah terbenam dalam kegiatan belajar mengajar. Lembaga pendidikan formal lalu menjadi tampak lapuk, usang, dan ketinggalan jaman karena masyarakat terlanjur memiliki ekpektasi bahwa tugas sekolah bukan sekedar mengajar melainkan juga mendidik.

Asas-asas pendidikan formal yang diterapkan di sekolah---seperti kemandirian, universalisme, prestasi, dan spesifisitas---berseberangan dengan asas-asas pendidikan informal yang berlangsung di rumah. Di sekolah para siswa dididik menjadi manusia mandiri. Kerja sama dalam mengerjakan tugas dibenarkan sejauh tidak mengandung unsur penipuan dan kecurangan. Itu sebabnya sekolah menerapkan larangan mencontek dan menjiplak. Kebalikannya pendidikan di rumah diam-diam membuat anak kurang mandiri. Makanan disiapkan orang tua. Mencuci pakaian dikerjakan pembantu rumah tangga. Kesulitan dalam belajar bisa dipecahkan dengan mengundang guru les privat.

Di sekolah semua siswa diperlakukan secara universal tanpa memandang jenis kelamin, latar belakang status sosial, latar belakang agama, dan latar belakang etnis. Tak heran bila sekolah menerapkan kebijakan pemakaian seragam guna meminimalkan segragasi ekonomi dan kesenjangan sosial. Di rumah anak-anak diperlakukan secara partikular, khusus, dan istimewa oleh orang tua mereka. Partikularisme ini, harus diakui, berpengaruh juga terhadap pendekatan guru terhadap para siswanya. Partikularisme itu justru yang menonjol dalam praktik pengajaran di sekolah. Perilaku guru di jaman sekarang cenderung emban cinde emban siladan (diskriminatif). Siswa-siswi bagus alus merak ati (tampan dan cantik) yang biasanya pintar dan berasal dari keluarga terpandang mendapat perlakuan khusus dan perhatian ekstra dari para guru. Siswa-siswi yang lusuh, kumal, dan berasal dari keluarga miskin cenderung disepelekan guru mereka.

Sekolah sangat menekankan prestasi akademik peserta didik. Prestasi akademik terlanjur dianggap menentukan berhasil tidaknya seseorang kelak bila terjun di tengah masyarakat sebagai kaum profesional. Di sekolah para siswa diajari kerja keras dan menghindari kegagalan. Tanpa disadari pola pengasuhan orang tua di rumah membuat anak-anak kurang menghargai achievement. Anak-anak di jaman sekarang nyaris bergelimang fasilitas dan kemudahan. Gaya hidup mereka cenderung hedonis dan konsumeristik. Itu semua mereka dapatkan nyaris tanpa mengeluarkan keringat berkat status sosial orang tua.

Sekolah juga memberlakukan asas spesifisitas (kekhususan). Konkretnya, nilai bidang studi biologi yang didapat seorang siswa tidak akan mempengaruhi perolehan nilai matematika siswa tersebut. Spesifisitas dalam penilaian berlaku untuk semua bidang studi sebagai konsekuensi lanjut dari asas kemandirian dan prestasi. Apa yang terjadi di rumah bila seorang anak naga-naganya akan gagal naik kelas karena nilainya jelek untuk bidang-bidang studi tertentu? Ada kecenderungan praktik jual beli nilai yang bertentangan dengan asas kekhususan sebagaimana dipaparkan guru-guru yang bekerja di kota-kota besar.

Modusnya, orang tua mendatangi wali kelas di sekolah atau di rumah dengan iming-iming imbalan uang atau materi bila berhasil memoles nilai anak mereka. Wali kelas, menjelang rapat kenaikan kelas, akan bergerilya dengan melakukan lobi terhadap guru-guru---terlebih guru-guru baru yang posisinya belum aman dan gampang ditekan. Proses jual-beli nilai bisa berlangsung karena pimpinan sekolah menerapkan kebijakan satu mata terbuka dan satu mata tertutup atas praktik manipulasi dan kecurangan yang jelas-jelas bertentangan dengan asas spesifisitas dalam penilaian.

Ketidakseimbangan asas-asas pendididikan di sekolah dengan asas-asas pengasuhan anak di rumah acap menjadi batu sandungan kerja sama orang tua dengan sekolah. Secara eksplisit memang kurikulum yang dirancang birokrasi pendidikan di Indonesia tidak memberikan petunjuk orang tua dengan sekolah bersinergi untuk mengatasi dilema tersebut. Kendati demikian banyak sekolah yang secara sistematis dan terencana merancang keterlibatan orang tua dengan sekolah dalam urusan kurikulum dan pendampingan kepribadian. Inisiatif dan kreativitas menggarap peluang kerja sama itu sepenuhnya tergantung dari kondisi sekolah masing-masing.

Ragam Pengalaman

Perubahan sistem pemerintahan yang sentralistik ke arah desentralisistik membawa perubahan pada sistem pengelolaan persekolahan. Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) sebagai terjemahan langsung dari School Based Management mengemuka. Lepas dari perdebatan soal kesiapan sekolah-sekolah di Indonesia menjalankan MBS (sekolah-sekolah swasta umumnya lebih siap) maupun silang pendapat tentang kegagalan dan keberhasilan MBS di negara lain seperti Amerika (yang sudah mulai sejak 1988), tampaknya ada pemahaman yang salah kaprah tentang implementasi MBS.

Pengelolaan persekolahan yang otonom dengan melibatkan stakeholder sekolah termasuk sebagian kecil orang tua dalam komite sekolah hanya diorientasikan pada pengumpulan sumbangan/dana dan fasilitas sekolah. Ada anggapan bahwa seolah-olah komite sekolah tidak berbeda dengan BP3. Partisipasi masyarakat (orang tua) selama ini pada umumnya lebih bersifat dukungan input (baca: dana), dan bukan pada proses pendidikan sebagai inti kegiatan mendidik.

Padahal, keterlibatan orang tua dalam pendidikan di sekolah seharusnya bisa dioptimalkan ke hal-hal lain di luar urusan finansial. Larry E. Decker menyatakan bahwa ada empat model keterlibatan orang tua dan masyarakat yang mampu memberikan nilai lebih terhadap keberhasilan peserta didik. Keempat model itu adalah (1) protektif, (2) transmisi sekolah ke rumah, (3) pengayaan kurikulum, dan (4) kemitraan. Dengan demikian, sungguh terbuka peluang keterlibatan orang tua dalam kegiatan pendidikan tergantung pada pilihan model yang diambil. Keterlibatan pun dapat dilakukan secara tidak langsung di rumah (terhadap anaknya sendiri) ataupun secara langsung dengan melibatkan diri dalam program-program yang direncanakan bersama staf sekolah.

Dari sisi kurikulum, prinsip implementasi Kurikulum 2004 (KBK) setidaknya meliputi: kegiatan belajar mengajar (KBM), penilaian berbasis kelas, dan pengelolaan kurikulum berbasis sekolah. Dalam kaitannya dengan KBM, proses belajar tidak hanya berlangsung dalam lingkup sekolah saja melainkan akan berlanjut ke lingkungan keluarga dan masyarakat. Dengan kata lain, orang tua sebenarnya memiliki peluang yang besar untuk terlibat aktif dalam proses KBM, minimal terhadap anaknya sendiri.

Peraturan Menteri (Permen) Pendidikan Nasional No. 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi untuk satuan pendidikan dasar dan menengah yang selama ini diperbincangkan karena tidak segera disosialisasikan memberi peluang keterlibatan orang tua dalam pelaksanaan kurikulum. Struktur kurikulum pendidikan dasar dan menengah sebagaimana diatur dalam Permen di atas dibagi menjadi tiga komponen, yakni (1) mata pelajaran, (2) muatan lokal, dan (3) pengembangan diri. Pada komponen pengembangan diri dinyatakan bahwa komponen ini bukan merupakan mata pelajaran yang harus diampu oleh guru. Kegiatan pengembangan diri difasilitasi dan atau dibimbing oleh konselor, guru, tenaga kependidikan yang dapat dilakukan dalam bentuk kegiatan ekstrakurikuler. Kegiatan ini dilakukan melalui kegiatan pelayanan konseling yang berkenaan dengan masalah diri pribadi dan kehidupan social, elajar, dan pengembangan karis peserta didik. Pada titik inilah sebenarnya keterlibatan orang tua dapat dioptimakan.

Jika peluang-peluang sebagaimana dipaparkan di atas sungguh dimanfaatkan, ada banyak kesempatan mengajak dan melibatkan orang tua dalam kegiatan persekolahan (kurikulum). Kurikulum 2004 (KBK) sungguh memberi kesempatan dan keleluasaan kepada sekolah untuk mengelola – dan dalam hal ini – memberi kesempatan kepada orang tua untuk peduli dan terlibat. Keterlibatan orang tua ini dapat ditempatkan pada jam-jam efektif belajar atau pada blok waktu tertentu yang telah direncanakan secara matang oleh bagian kurikulum.

Waktu-waktu luang setelah anak-anak menempuh ulangan blok (ulangan umum) sampai dengan penerimaan rapor adalah kesempatan yang baik untuk memberikan pemahaman tentang penjurusan di SMA (IPA, IPS, BHS), program studi di Perguruan Tinggi (PT) berikut peluang-peluang kerjanya, termasuk strategi-strategi memilih dan cara-cara belajar di PT. Sering pula kegiatan seperti penyuluhan hukum, kenakalan remaja dan konsekuensinya, narkoba dan bahayanya, etika pergaulan dilakukan untuk memberi pendampingan terhadap anak sesuai tingkat kebutuhan dan konteks yang mereka hadapi.

Sebagian besar kegiatan di atas diberikan oleh orang tua siswa. Ada beberapa alumni yang juga sekaligus orang tua siswa. Pemahaman penjurusan di SMA biasa disampaikan oleh orang tua siswa yang berprofesi sebagai guru atau dosen dengan spesialisasi jurusan tertentu atau alumni yang pernah memilih jurusan tertentu semasa SMA, dan menemukan nilai-nilai lebih pada jurusan itu sehingga mendukung profesi mereka sekarang ini. Di satu sisi, sharing dari orang tua siswa, sentuhan-sentuhan motivasi yang mereka berikan tentulah sangat berbeda jika dibandingkan dengan guru-guru yang memberikan. Di sisi lain, guru memiliki kesempatan dan terbantu untuk mengoreksi, mengolah nilai, dan mencetak rapor.

Kekhasan program studi di PT berikut peluang-peluang kerjanya selalu ditunggu-tunggu oleh siswa kelas 3. Banyak orang tua siswa yang berprofesi sebagai dosen dengan spesialiasi program studi/ilmu tertentu. Pada kesempatan ini, unsur promosi PT tempat orang tua siswa berkarya akan lebih tersisihkan oleh cinta dan perhatian orang tua untuk memberikan gambaran tentang strategi belajar di PT, kekhasan program studi dan peluang kerjanya. Pertanyaan-pertanyaan yang muncul adalah pertanyaan seorang anak kepada bapak atau ibunya.

Penyuluhan hukum, kenakalan remaja dan konsekuensinya, narkoba dan bahanyanya, atau etika pergaulan seringkali dilakukan dalam bentuk kuliah umum untuk siswa per tingkat. Materi-materi ini umumnya juga diberikan oleh orang tua siswa yang memiliki kompetensi dan profesi sesuai dengan materi kuliah umum. Setiap kali, ada saja orang tua siswa kompeten seperti pakar hukum, polisi, sipir penjara, psikolog, aktivis gerakan anti-narkoba dan memiliki relasi dengan pelaku (mantan pengguna) yang bisa dipakai sebagai model.

Pada kesempatan-kesempatan seperti ini, unsur informatif barangkali berada pada urutan yang kesekian – karena siswa kemungkinan bisa mencari referensi-referensi sendiri. Yang lebih penting, lewat kuliah umum itu terjadi dialog antara orang tua dengan anaknya. Lewat kuliah umum itu pula sekolah memberi kepercayaan dan kesempatan kepada orang tua untuk terlibat dalam pendampingan siswa. Di satu sisi, sekolah memberi ruang dialog antara orang tua dengan anak, dan di sisi lain, sekolah menempatkan orang tua sebagai penanggung jawab pokok pendidikan bagi anak-anaknya. Porsi inilah yang perlu dikedepankan jika kegiatan-kegiatan ini ingin dilakukan.

Kesempatan lain, pada saat jam-jam efektif belajar, tidak tertutup kemungkinan orang tua yang menekuni secara khusus dan ahli pada bidang studi tertentu hadir dan mengajar secara klasikal. Beberapa yang pernah dilakukan adalah pelajaran biologi (bioteknologi), bahasa Inggris (native speaker, cros culture understanding), akuntansi/ekonomi, dan matematika (kurikulum Australia). Nilai lebih dari kesempatan ini, siswa mendapatkan suasana belajar yang baru dengan keterikatan emosional tertentu (karena orang tua siswa yang mengajar), guru mendapat informasi baru (up to date), keinginan orangtua untuk memberikan sesuatu kepada sekolah dan anak-anaknya terfasilitasi. Tentulah hal ini membutuhkan perencanaan yang matang berkaitan dengan jadwal, agenda kegiatan sekolah, dan orang tua.

“Humanitas Expleta et Eloquens”

Putri pertama saya (Puella Desideria Adiartanto) bersekolah di Kelompok Bermain (KB) dan Taman Kanak-kanak (TK) Teruna Bangsa. Hal pertama yang mendorong kami (saya dan istri) memilih sekolah ini setelah survey ke sekian banyak KB/TK adalah motto/slogan yang melekat pada nama KB/TK itu: “Bersama Orang Tua Mendidik Anak”. Semboyan ini tidak berhenti sebagai slogan atau iklan pemanis penarik minat. Setiap hari, putri saya selalu pulang sekolah dengan buku “wisdom” yang berisi laporan guru atas apa yang dilakukan putri saya selama dua jam di sekolah: bagaimana sosialisasinya dengan teman, apa kemajuan yang dicapai hari itu, dan segala hal yang terjadi pada putri saya selama satu hari sekolah yang dua jam itu. Di samping laporan guru itu ada kolom yang harus setiap hari pula kami isi dan dibawa kembali ketika anak berangkat sekolah. Tanggapan atas laporan guru, harapan terhadap guru, atau bisa juga kejadian-kejadian yang dialami anak di rumah dan memerlukan perhatian guru.

Praktis semua aktivitas putri kami di sekolah bisa terpantau secara lengkap. Pun semua kegiatan putri kami di rumah juga bisa dipahami oleh guru kelas. Komunikasi timbal balik (meski hanya lewat tulisan) yang ideal untuk mendampingi anak-anak usia 4-6 tahun.

Ada satu kegiatan yang wajib diikuti oleh orang tua siswa sebulan sekali. Kegiatan ini diberi nama Waktu Belajar Bersama (WBB). WBB dilakukan sore hari dan wajib diikuti oleh orang tua siswa bersama staf guru. Ada banyak materi yang didiskusikan dalam WBB, dan materi itu berkaitan dengan program program pendampingan anak selama sebulan itu. Cara berkomunikasi dengan anak, memberi perhatian, memberi reward-punishment kepada anak di rumah adalah sebagian kecil materi WBB. Lagu-lagu “character building” yang baru bulan itu pun dilatihkan agar orang tua dapat membantu anak belajar menyanyi dan menerangkan maknanya di rumah.

Semboyan “bersama orang tua mendidik anak” bukan isapan jempol. Orang tua secara konkrit sungguh dilibatkan dalam proses pendidikan anak. Tidak jarang pula orang tua yang memiliki keahlian khusus (menari, bermain musik, berbahasa Inggris) dilibatkan dalam kegiatan belajar mengajar pagi hari.

Titik penting paparan pengalaman di atas terletak pada bagaimana upaya sekolah untuk memberi kesempatan seluas-luasnya kepada orang tua siswa terlibat dalam proses pendidikan anak. Buku “wisdom” dan WBB hanyalah alat dan wadah keterlibatan itu, dan tentu akan memiliki kendala tersendiri jika dilaksanakan pada tataran SMP/SMA dengan murid yang berasal dari berbagai wilayah di Indonesia. Namun bukan hal yang mustahil jika diagendakan secara cermat. Pertemuan orang tua/wali siswa dengan pihak sekolah (direksi-guru-wali kelas) secara bersama-sama minimal satu tahun sekali kira bukan sesuatu yang tidak mungkin dilakukan.

Informasi akademik, perkembangan studi dan perilaku siswa adalah materi penting yang bisa didialogkan dalam forum seperti ini. Tentulah forum-forum seperti ini harus menghilangkan kecurigaan bahwa sekolah akan menarik iuran sebagaimana terjadi setiap kali sekolah membuat pertemuan bersama dengan orang tua.

Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) memberi kesempatan besar bagi terjadinya sinergi orang tua dengan sekolah dalam pendampingan anak. Berikut merupakan contoh sederhana sinergi yang sudah melembaga dan menjadi tradisi di SMA Kolese de Britto Yogyakarta. Wali kelas pada awal tahun ajaran baru menyiapkan dan menyusun buku catatan kemajuan akademik dan kepribadian untuk masing-masing siswa kelas perwaliannya. Buku itu memuat berbagai informasi esensial seperti catatan presensi, nilai-nilai akademik yang disalin dari kartu perolehan nilai, kasus-kasus tentang perilaku destruktif, dan catatan-catatan tentang kebajikan-kebajikan khas setiap siswa. Berdasarkan buku tersebut wali kelas bisa mengenali dengan akurat kekuatan khas (signature strength) maupun kelemahan khas (signature weakness) masing-masing siswa yang menjadi tanggung jawab perwaliannya.

Pembagian rapor mid semester dirancang sekolah menjadi salah satu ajang pertemuan orang tua dengan wali kelas. Buku catatan kemajuan akademik dan kepribadian itulah yang dipakai sebagai bahan konsultasi tatap muka wali kelas saat bertemu dengan orang tua terutama untuk siswa-siswa perwalian yang menghadapi kesulitan. Kerja sama terjalin dengan sendirinya mengingat segala sesuatunya dimulai dialog penuh itikhad baik. Wali kelas bekerja berdasarkan data. Data-data itu selanjutnya dipakai orang tua guna memotivasi anaknya di rumah. Orang tua lalu sadar akan keterbatasan dan kelemahan anak mereka. Kemunduran akademik dan defisit kepribadian anak biasanya akibat langsung dari keteledoran orang tua yang kurang memperhatikan anak-anak mereka. Dialog anak dengan orang tua pasti bergulir karena masing-masing menyadari kelemahan mereka. Komunikasi yang berlumur amarah dan makian dengan spiral tuduh menuduh yang semakin menanjak pun bisa dihindarkan.

Perhatian guru, wali kelas, staf pendampingan (bimbingan konseling) di bawah koordinasi wakil kepala sekolah bidang kesiswaan dan kurikulum tidak hanya terfokus pada siswa-siswa yang bermasalah secara akademik maupun kepribadian. Para siswa yang mampu menunjukkan prestasi akademik dan keutamaan kepribadian seperti kepemimpinan, seni, dan olah raga mendapatkan penghargaan berupa kaos atau jaket almamater yang didesain khusus (limited edition). Pembagian ini bisa berlangsung secara massal di hadapan para orang tua saat mereka di undang ke sekolah entah dalam acara pembagian rapor maupun pelepasan siswa kelas 3 SMA. Pembagian reward ini sangat berfaedah untuk menumbuhkan perasaan bangga dan berharga anak di hadapan orang tua mapun pendidik mereka.

Sepele ning dadi gawe (sederhana tapi bermakna). Mengapa? Karena model pendampingan siswa yang lazim diterapkan kolese-kolese di seluruh dunia itu menurut Martin E.P. Seligman (2003), guru besar psikologi Universitas Penssylvania Amerika Serikat, dalam buku Authentic Happiness, bertujuan mengeksplorasi kebajikan khas (signature strength) para siswa. Kebajikan khas siswa itu terdiri dari enam bagian. Pertama, kearifan dan pengetahuan (terdiri dari kuriositas, kecintaan belajar, keterbukaan, kecerdikan, kecerdasan sosial, horison, dan perspektif). Kedua, Keberanian (meliputi kekuatan-kekuatan perihal ketegaran, keuletan, integritas, dan ketulusan). Ketiga, humanisme (meliputi keutamaan seperti kemurahan hati dan kemampuan untuk mencintai-dicintai). Keempat, keadilan (terdiri dari sosialisasi bermasyarakat, egalitarian, dan kepemimpinan). Kelima, kebersahajaan (meliputi kemampuan mengendalikan diri, kehati-hatian, dan kerendahan hati). Keenam, spiritualitas dan transendensi (meliputi kemampuan mengapresiasi keindahan, bersyukur, menyalakan harapan, kemampuan memaafkan, humor, dan antusiasme). Muara dari pendidikan yang menyantuni kebajikan khas siswa adalah humanitas expleta et eloquens (kemanusian yang penuh dan sanggup mengungkapkan diri).

Pelibatan orang tua dalam proses pendidikan menjadi sangat esensial karena pedagogi bagi para siswa sekolah dasar hingga sekolah menengah menurut Martin Seligman merupakan proses menatah kebajikan khas (strengthening drift) siswa. Pedagogi jelas berbeda dengan andragogi---pendidikan untuk kaum dewasa di perguruan tinggi. Model pendampingan siswa yang menuntut keterlibatan penuh orang tua ini, meminjam kerangka berpikir Danah Zohar dan Ian Marshal (2004), dua pendidik dari Universitas Oxford Inggris, dalam buku Spiritual Capital: Wealth We can Live By Using Our Rational, Emotional, and Spiritual Intelegence to Transform Ourselves and Corporation telah menerapkan prinsip-prinsip edukasi seperti keluwesan (spontanitas), terbimbing visi dan nilai, holisme, kepedulian, pembingkaian ulang masalah, mengambil manfaat dari kemalangan, dan kerendahan hati.

Sinergi yang tidak populer, menuntut totalitas, melelahkan, dan menguras energi itu jelas bermakna, bernilai, dan mengabdi tujuan-tujuan mulia. Almarhum Bunda Theresa, orang suci dari Kalkuta, India, punya alegori yang menguatkan, meneguhkan, dan memberdayakan pendidik dan orang tua yang mau total mendampingi peserta didiknya. Alegori yang ditemukan dalam buletin lusuh SMA swasta di Khatmandu, Nepal, tempat Bunda Theressa pernah mengajar di tahun 1950-an itu berbunyi demikian, “Orang acap tak bernalar. Biar begitu maafkanlah mereka. Bila engkau baik, orang akan menuduhmu menyembunyikan motif pribadi. Biar begitu tetaplah bersikap terpuji. Bila engkau mendapat sukses, engkau bakal mendapat teman-teman palsu dan musuh-musuh sejati. Biar begitu tetaplah fokus pada keberhasilan. Bila engkau jujur orang akan menipumu. Biar begitu tetaplah jujur. Apa yang engkau bangun selama bertahun-tahun mungkin akan dihancurkan penjahat dalam semalam. Biar begitu tetaplah bekerja keras. Bila engkau menemukan kebahagiaan orang akan iri. Biar begitu tetaplah berbahagia. Kebaikan yang engkau lakukan hari ini dilupakan orang keesokan hari. Biar begitu tetaplah berbuat baik.” ***
Read More..

My Real Retreat

HERE IS MY “REAL RETREAT”
(Final Presentation Instructional Strategies)
By: Agustinus Prih Adiartanto

A. Introduction

As a Catholic, we know very well what a retreat is. The term retreat, according to wikipedia, is “the notion of safety or temporarily removing oneself from one's usual environment. A retreat can be taken for reasons related to spirituality, stress, health, lifestyle, or social or ecological concerns.” In other words, retreat is an activity designed peculiarly for the process of experiencing spiritual life. In retreat, participants are to overview the process and reflect upon their life. The purpose of retreat is to refresh the spirit, “renovate” their life, obtain motivation, and make the new strategy for the life.

My experience in this summer course is like a retreat. During twelve years of being a teacher (directly upon my graduation in 1995), I have never attended any class again. Borrowing the term of Stephen Covey, I never sharpened my saw. I was too occupied with teaching and administrative tasks in my school. Even, in the last four years, I was in charge of the vice principal for academic affairs. I did make some changes in my school, but I think I did not use the “sharpened saw” to solve the problems that I had. I could have done better work if I were more skillful and better prepared for the position.


More or less seven weeks in Chicago, I have been invited to return and recollect what I have learned when I studied. In the mass tree weeks ago, Fr. Patrick Fairbanks, S.J. expressed the term “return-repeat-refresh” that clearly represents my stay here. At the instructional strategies lesson with Dr. Boyle, I was re-invited to contemplate: whether I have taught my students using the constructivism paradigm or not. In the school visit program, my eyes were reopened. I realize that I learned more before I came here. When I taught in my class, I also implemented Marzano’s nine high yield strategies. The problem is I often do not realize the benefits and target use of the technique or strategy. Equally, what my experience here is a retreat. Not only spiritual retreat, but its professionalism as a teacher retreat. I like to say "real retreat".

I would like to share my reflection of the real retreat. In detail, I would share the results of my intellectual struggle (what have I learned), and what I can share to my colleagues in Indonesia (how will I teach my colleagues).


B. What have I learned?


The big issue of education that I have learned here is constructivism paradigm. Constructivism is a theory about student knowledge and learning that is serving as the basis for many of the current reforms in education. Brooks and Brooks (1993) provide a detailed description of both classroom practice and its underlying theoretical connections. The authors present five overarching principles of the constructivist pedagogy: 1) posing problems of emerging relevance to learners; 2) structuring learning around “big ideas” or primary concepts; 3) seeking and valuing students’ points of view; 4) adapting curriculum to address students’ suppositions; and 5) assessing student learning in the context of teaching.

Brooks and Brooks detail twelve descriptors highlighting constructivist teacher practices that help students search for their own understandings instead of following other people’s logic. These descriptors serve as a helpful framework for teachers who stimulate and challenge students to focus their minds on meaningful tasks, to think about significant issues, and to construct new understandings of the world around them. So far, constructivism is contrasting with behaviorism. Constructivism and Behaviorism are very different in their views on learning, and on their views of the world in general.

Although constructivism is not a new one and is the based of Indonesian curriculum development, so far I have not grasped the meaning of constructivism comprehensively and clearly. In my opportunity of learning from Dr. Boyle, I have clearly understood, because in the lesson, Dr. Boyle is a constructivist model. I get a clear understanding constructivism, how constructivism-practice is in pre-assessment and in Marzano’ nine high-yield, and all at one see how US High school (catholic school) applied this paradigm.



1. Pre-assessment


Pre-assessment is an important activity in constructivist approach because constructivism sees that the most basic concept to start the class is conducting a pre-assessment before the lesson is done. The purpose of pre-assessment is to know what knowledge and skills students already have. Several techniques employed for pre-assessment that we practice are: pair share (way of learning which students are asked to work in couple), starting block (peer-group to answer the six questions on each of dice), and KWL (know-want to know-learn), Student discuss what they know, what they want to know, and what they learn about objectives that they will learn.

Pre-assessments are given prior to instruction in order to measure student’s knowledge and skill of the unit to be taught. Result of this assessment can be used to determine the appropriate content and pace of instruction for individual students. The strategies can be affective if the teacher knows what learning style students have.

2. Nine High Yield Strategies


Classroom Instruction That Works: Research-Based Strategies for Increasing Student Achievement by Marzano, Pickering, and Pollack is a book that we learn in class. This book contains research finding of Mind-continent Research for Education and Learning (McREL) and have identified nine instructional strategies that are most likely to improve student achievement across all content areas and across all grade levels. The nine categories are: identifying similarities and differences; summarizing and note taking; reinforcing effort and providing recognition; homework and practice; nonlinguistic representations; cooperative learning; setting objectives and providing feedback; generating and testing hypotheses; questions, cues, and advance organizers.

As a teacher, I am used to these strategies, but the problem is that I do not always realize and use the strategies with good employing planning and clear purpose. I would like to describe four strategies that I think were interesting for me. They are identifying similarities and differences, homework and practice, nonlinguistic representations; and cooperative learning.

a. Identifying similarities and differences

Identifying similarities and differences presents students with explicit guidance in identifying similarities and differences enhances students’ understanding of and ability to use knowledge (students’ independent identification of similarities and differences enhances students’ understanding of and ability to use knowledge). The techniques/approaches used are Teacher-Directed Comparison Task (Explicit approach) and Student-Directed Comparison Task (Implicit approach). The graphic organizers used are the Venn diagram (implicit) and the skillful comparison/comparison matrix (explicit) Representing similarities and differences in graphic and symbolic form further enhances students’ understanding of and ability to us knowledge.

For example, I can apply the strategies in the lesson to identify the similarities and differences of debate and discussion, the following are steps as an instructional strategy that I have to do the Venn diagram: I ask my students to jot down their prescribed knowledge to identify the similarities and differences between debate and discussion. The similarities are listed in the intersection between the two circles, while the differences are listed on the parts of each circle that do not intersect. In a certain case, for example in a class, that has no prior knowledge at all concerning the topic; I tend to give ‘clues’ (attributes) for the class in order to adjust my expectation to their real condition. In the skillful comparison (comparison matrix technique), I provide my students with ‘clues’ or attributes. The attributes will help them much in identifying the similarities and differences between debate and discussion. I use more directions that are detailed for students in this way. The examples of attributes are goal, skill, activity, form, rules, and argument. This strategy is very useful for enhancing the students’ achievement of learning and forming their way of thinking (systematically thinking and understanding of knowledge)—see attachment 1.

b. Homework and Practice

Homework provides students with the opportunity to extend their learning outside the classroom and deepen students understanding. Purpose of homework should be clear (practice or preparation for upcoming units) to both students and parents with appropriate feedback given on all assignments. Therefore, the teacher must articulate up front the type of feedback that will be provided. Establish a homework policy with advice-such as keeping a consistent schedule, setting, time limit that parents and students my not have considered. Focused practice is required in order to master a skill, allowing students to adapt and shape learned concepts. Speed and accuracy are key indicators of the concepts mastery of complex or multistage skill, and set a side time to accommodate practice periods.

I often give the homework and practice to my students without clear purpose and guide/direction. Moreover, I often give homework and practice just to get the assessment. In other words, assessment is the main target (see attachment 2).

c. Nonlinguistic Representation

Nonlinguistic representation is incorporate words and imagines using symbols to represent relationships. Teachers who wish to take advantage of all modes of learning will encourage students to make non-linguistic representations of their thinking. These can take many different forms (creating graphic representations, making physical models, generating mental pictures, drawing pictures and pictographs, engaging in kinesthetic activities).

By using non-linguistic representations, teachers help students create mental pictures or physical sensations to help recall information. Non-linguistic representations should elaborate on knowledge so that students understand concept in greater depth and so they can recall information more quickly. Taking advantage of this teaching tool requires focusing on current classroom practice and looking for opportunities to engage students in multiple mode (i.e. integrate non-linguistic form into note-taking, foster cooperative learning, teach interpretation of non-linguistic forms also, use in the content areas – language, art classrooms provide natural connections from classifying words to modeling plotlines)—see attachment 3.

d. Cooperative Learning

Cooperative learning is a successful teaching strategy in with small terms, each with students of different levels of ability, use variety of learning activities to improve their understanding of a subject. Cooperative learning is based on the belief that all students are capable of understanding and learning, and performing the task. Here is the five underlying principles of cooperative learning: distributed leadership, heterogeneous grouping, positive interdependence, social skill acquisition, and group anatomy.

Actually, I often use various forms of cooperative learning in my classroom activities such as Think-Pair-Share, Three Minutes Review, and Jigsaw. I used the strategies for different purposes. Sometimes, I needed to improve students understanding. But another time, I used this strategies because I did want to teach when had some paperwork to do. Therefore, I often exploit the strategies just for my interest.

3. Catholic High School Visits

The visits to four catholic high schools St Scholastica Academy (SSA), St. Gregory the Great High School (SGHS), St. Ignatius Prep School (SIPS), and Loyola Academy (LA); certainly brought great experiences on me. I learned independence and curriculum development, school culture and corporate culture, and teacher-student interaction.

All of catholic schools that I visited have school independence. They are visible from school rights in curriculum development, including materials selection, delivery methods, and assessment. In Indonesia school, government control is very strong even in private school. National final exam, curriculum obliged to by seventeen semester subjects and forty three learning hours each week in each level very restrictive of school-teachers-students. Student becomes passive, teachers do not use constructivism, and success on the national test is the special target.

School culture and corporate culture usually has conducive atmosphere for students learning and teachers working. In my observation, all of catholic schools that I was visit have good school culture and corporate culture. All school owns a well-maintained building. There able to get the funds from fund-raising. Learning environments are well arranged and complete. Having a catholic identity, intellectually stimulating, and attractive symbol such as alumni’s pictures show a long-standing school culture. There are observable things that I see in one side. In other side atmosphere of teacher commitment, school management, collegiality, system work-on are indicated good corporate culture. Indirectly, this matter also shows the capability school leader. Generally, Indonesian school leader are selected by seniority. So it is understandable that school management does not run well. Supervision does not work well; no good planning is conducted at schools and missions are not well translated into action.

Most US teachers are used to developing student-centered classes. Teachers in the US are less strict and more tolerant to student behaviors in the class. The interesting is students obtain their freedom of expressing during their learning process and they also respect their teachers in the same time. So far, teacher-student interactive in my school is good. As a community, relation and interaction work well. That is happened because my school develops the education and school freedom. No school uniform, free student expression but must responsibility. This make the pattern of relationship between teacher and student be informal.

a. St. Scholastica Academy

I am impressed by the school culture and corporate culture SSA. With regard to school culture, the school mission is clearly reflected on students’ engagement in learning, freedom of expression to allow students to develop higher-order thinking skills, positive relationship between students and their teachers, and students’ compliance to school discipline. With regard to corporate culture, older and younger teachers engage in positive and enriching communication. Each teacher thematically translates five school tenets in their lessons. Each department is well organized and optimally developed. Teachers remain to work with the integrity, responsibility, and high motivation. These clearly represent a well-developed corporate culture.

Leadership skills are another difference between SSA and the school in Indonesia. Event thought Loretta is the first lay president in SSA, she possesses good leadership skills. She is good at organizing the whole staff, building common understanding, and maintaining high motivation. It is very different from school principals in Indonesia. Generally, a principal is only selected by seniority. So it is understandable that school management in Indonesia does not run well. Supervision does not work well; no good planning is conducted at schools and school missions are not well translated into actions. Those are examples of leadership ability to most principals. Those are examples of leadership ability the most principals (see attachment 4).

b. St. Gregory the Greatest High School

The process on how teachers accompany students in their learning in SGHS is an interesting point that I found in this school visit. SGHS teachers have high commitment and motivation in caring students. This could be seen when we had a class observation. In a class that I observed, I saw how teachers encouraged the students patiently, lovingly, even though the students’ motivation was not high enough. I saw the real forms of constructivism through the class. When we had a meeting with some faculty, it seemed that their choice to become teachers was their vocation. They taught the students as their own children. It showed their spirit in teaching.

SGHS compiles the curriculum instruction in-depth analysis of each subject, compiled with soft skill training, protégé internship program and Learning Resource Program (LRP) which are really good. This program shows clearly how education process in SGHS really gets the highest attention. SGHS is not a Jesuit school. LRP and Protégé program really reflects how student in education process seriously accompanied. Through both programs SGHS student – the ordinary students who have little motivation to learn—find their world to direct themselves. On the other words, it is actually called as "cura personalis". Mostly Indonesia people tend to measure the success of education and school quality based on input and output (scores/grades). This perception oversimplifies the learning process. A school is not a factory that produces things which are measured from its output or with high national exam scores. Moreover, a school is a place to sharpen the competence, compassion, conscience, and prepare students for their social live. This can be true if an education process in school is really managed by a capable leader and supported by all of teachers that have high commitment and great motivation. In addition, the student assistance must be well planned, directed and in a continuing process (see attachment 5).


c. St. Ignatius Prep School and Loyola Academy (Jesuit School)

The visits to Jesuits School (SIPS and LA), certainly opened my mind how to make a Jesuit school Jesuit. I know how to translate the school mission to become spirit the school in daily life, respecting diverse religions, economic, geographic, racial and ethnic backgrounds, balance among programs for encouraging the spiritual formation, discipline, and academic pursuit; Ignatian pedagogy paradigm; concern in social justice; preferential option for the poor, man and women for others as a motto, students assistant with “cura personalis” not new terms in Indonesia Jesuit schools. The schools are professionally managed, have established systems that make them able to develop conducive learning atmosphere. The interesting ones are the strategies that the schools use to organize and manage parents’ involvement, and to invite alumni’s involvement for fundraising activities. Two Jesuit schools that I visited are already established, but they have good strategies to build the relationship with the alumni and parents. Those qualities are not easily found in Indonesian Jesuit schools (see attachment 6).

C. How I Tell My Colleagues?

I acknowledge that sharing experiences is not easy. Why? There are three reasons why it is so. First, the gap between the veteran teachers and younger generation of teachers is too big. Paternalistic culture, where the veteran teachers own more authority to determine what to do, is very strong.

Second, the nature of people is to stay in their comfort zones. In my observation, teachers enjoy their comfort zones to much, i.e. already satisfied with being in status quo. For example, the change of curricular policy did not mean the change of learning paradigm or delivery methods.

Third, the existing national final exam that determines students’ graduation makes teachers unable to develop themselves. They do not have courage to make their class meaningful for the students. They are forced to follow the prescribed materials set by the government.

However, it does not mean that there is no way to solve the problems. In my school level, I think I will do the following. First, I will invite pioneers to engage them with new paradigm. I will facilitate them to improve their skills and giving the feedback on their try-out of the new paradigm.

Second, I will certainly communicate our group progress in our bimonthly teacher meetings. In these meetings, we can share our success, troubles, joy, obstacles that we have in implementing our new approach and share the ways to solve the problems.

Third, I also support the systemic change. The government requires teachers to be certified. Teachers must continue their study. This is a good opportunity for them to change their paradigm. In addition, the new curriculum introduced by the government supports the constructivist perspective for learning. Schools have ample room to develop their own curriculum. My role will be to help set up the new curriculum and learning designs for my colleagues. I will certainly help translate the high-yield instructional strategies into the subjects taught in my school.

Here is my reflection of retreat; not alienated retreat in a cloistered and silent place, but in life all day long retreat. This is real retreat. With limited English, I tried to enjoy learning any kind of things. I believe I will still have the opportunity to “sharpen my saw” in the next summer program.***
Read More..

Pendidikan Berkeadilan Sosial

Berbagi pengalaman:

SUMBANGAN SEKOLAH BAGI PENDIDIKAN
BERKEADILAN SOSIAL

Ag. Prih Adiartanto
Guru SMA Kolese De Britto


Pengantar

Tomoe-Gakuen, besi tua gerbong kereta itu adalah “sekolah kehidupan” bagi Totto Chan.
Di sana ia diajar menggunakan kebebasannya untuk menumbuhkan rasa tanggung jawab,
menumbuhkan cinta untuk sesama. Itulah yang ditemukan
gadis kecil kelas 1 SD setelah ia dikeluarkan dari sekolah asal
karena kenakalannya


(Kuroyanagi, Totto Chan, Gadis Kecil di Jendela)


Alangkah indahnya jika sekolah menjadi tempat di mana anak-anak menemukan kegembiraan dan kebahagiaannya. Di sana anak-anak belajar, berteman, bermain, menjadi dirinya, dan mengembangkan bakatnya. Di sana anak-anak memperoleh perlindungan dari ancaman-ancaman yang disengaja atau tidak datang dari masyarakatnya. Di sana anak-anak aman mempersiapkan masa depannya. Begitulah Sindhunata mengawali tulisan “tanda-tanda zaman”-nya dalam BASIS edisi Januari-Februari lima tahun yang lalu.

Benarkah sekolah-sekolah kita saat ini menjadi tempat yang indah sebagaimana diilustrasikan di atas? Sungguh memprihatinkan melihat anak-anak kita di ruang-ruang kelas saat ini. Anak-anak yang murung karena beban belajar dan kurikulum yang sedemikian padat. Anak-anak yang takut dengan hantu bernama Ujian Nasional (UN). Anak-anak yang kelelahan karena sepulang sekolah masih harus les ini-itu agar memperoleh angka yang baik. Sementara beberapa anak mati kaku gantung diri karena tidak bisa membayar iuran ba, bi, dan bu.

Betapa sekolah (baca: pendidikan) telah banyak menyeleweng dari tugasnya yang paling dasariah: membantu anak didik menjadi manusia yang bebas, merdeka, dan berbudaya. Sekolah mestinya menjadi dasar tumbuhnya kehidupan berdemokrasi yang adil. Jangan kita bermimpi akan keadilan dengan sendirinya terjadi, jika kita tidak mengupayakan suatu sistem persekolahan yang membebaskan anak didik menjadi dirinya dan dengan demikian juga menghargai orang lain untuk dapat menjadi dirinya sendiri.


Tulisan berikut ini dimaksudkan sebagai sarana berbagi sedikit pengalaman, bagaimana sekolah mengupayakan dan menghidupi pendidikan yang berkeadilan sosial. Pengalaman di sekolah lain barangkali berbeda dan justru memperkaya satu sama lain. Tentu saja semua uraian ini berangkat dari situasi faktual yang ada di lapangan. Untuk itu, berikut ini akan dipaparkan secara urut: potret persekolahan saat ini, beberapa pengalaman tentang upaya menghidupi semangat bereadilan sosial dalam proses pendidikan dan catatan kecil sebagai penutup dari sharing ini.

Non Scholae Sed Vitae Discimus

“Sekolah bukan melulu untuk sekolah itu sendiri, tetapi sekolah adalah belajar tentang hidup.” Begitulah kira-kira terjemahan bebas dari pepatah Latin di atas. Pepatah ini layak dimunculkan mengingat dalam iklim kapitalis sekarang ini, esensi sekolah sudah berubah menjadi “tukang jahit”. Sekolah diam-diam menjadi semacam pande besi (bengkel besi tempa). Para orang tua bisa datang kapan pun mereka suka membawa berbagai bahan logam, dengan segala kualitasnya, seperti lempengan bekas per mobil atau potongan rel kereta api untuk ditempa menjadi pisau, sabit, cangkul, kelewang, dan perkakas lainnya. Sekolah menjadi bengkel jasa tempat orang tua bisa ngadekke (memesan) perkakas yang mereka butuhkan. Asal ada bahan baku dan terjadi kesepakatan harga antara proses jual beli jasa itu selebihnya menjadi urusan bengkel. Para pemesan tahunya segalanya beres.

Pragmatisme yang merajalela di pelbagai sektor kehidupan menyebabkan orang lebih mendewakan hasil dari pada proses. Ijasah formal sangat dibanggakan. Nilai-nilai ujian adalah tujuan akhir yang harus mati-matian diperjuangkan. Lulus lebih cepat dari umumnya orang bersekolah menjadi prestise karena berhasil masuk kelas akselerasi.

Ada yang hilang dari proses pendidikan di sekolah, yakni: pendidikan nilai, pembentukan karakter. Sekolah hanya menjadi tempat mengasah otak dan kurang mengasah hati. Sekolah masih berorientasi pada kecerdasan kognitif (IQ) dan belum berorientasi ke kecerdasan majemuk, meski ketika terjun ke dunia kerja lebih dituntut integritas pribadi daripada kemampuan kognitif. Mengapa? Karena hasil akademis lebih bisa membawa prestise sekolah. Juara olimpiade sains dalam percaturan dunia lebih membanggakan negara daripada sekian puluh ribu siswa harus drop-out karena tidak bisa membayar sekolah. Ranking nomor wahid dari hasil UN, rata-rata nilai UN yang tinggi lebih membanggakan ketika di-koran”-kan.

Dalam pendaftaran sekolah pun calon siswa akan diranking dan dikelompokkan berdasar nilai UN. Calon siswa dengan nilai hebat akan terkumpul di sekolah negeri favorit. Agar nilai UN membanggakan, setiap sore lembaga-lembaga bimbingan belajar dengan ongkos yang tidak murah selalu penuh sesak. Mereka yang memiliki ekonomi lebih kuatlah yang bisa menikmati fasilitas di bimbingan-bimbingan belajar. Dengan asumsi mereka-mereka yang berkantong tebal pula yang umumnya memperoleh nilai bagus. Dan mereka-mereka pulalah yang berhak mengisi bangku-bangku sekolah negeri favorit yang nota bene disubsidi oleh pemerintah. Lalu, di manakah anak-anak yang berasal dari keluarga dengan ekonomi pas-pasan? Anak-anak yang tidak kebagian kue fasilitas sekolah negeri favorit? Umumnya mereka ada di sekolah-sekolah swasta pinggiran, yang masih harus membayar biaya ini-itu karena sekolah ini memang hanya bisa hidup karena uang bayaran siswa. Dan hingga saatnya ”tuhan” yang bernama UN kembali harus menggelar pengadilan terakhir.

Ironis. Sekolah yang seharusnya menjadi tempat menyenangkan dan membudayakan anak berubah menjadi arena persaingan yang tidak sehat. Lebih aneh lagi, karena interpretasi Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) yang salah kaprah, sekolah-sekolah negeri favorit justru menarik sumbangan yang tahun ini sungguh mengejutkan jumlahnya. MBS sebagai konsekuensi bergulirnya otonomi daerah ibarat sekeping mata uang bermuka dua.. Di satu sisi menghasilkan liberalisasi pendidikan dan di sisi lain mendorong otonomi sekolah atau lebih tepat ”privatisasi”. Begitulah kenyataan ini mengalir dan berulang tanpa ada yang bisa dan berniat menghentikannya; sehingga tidak berlebihan kiranya jika Darmaningtyas menjuduli bukunya dengan ”Pendidikan Rusak-Rusakan”.

Beberapa Pengalaman

Seleksi masuk SMA Kolese de Britto tidak didasarkan pada nilai UN. Calon siswa menjalani seleksi dalam beberapa tahap. Pertama, wawancara untuk melihat kepribadian dan potensi anak untuk berkembang secara optimal. Pada tahap ini anak dikenali secara personal, karena pola pendampingan di sekolah anak akan didampingi sesuai kekhasan pribadinya (cura personalis). Kedua, siswa menjalani Tes Potensi Akademik (TPA). Tes ini bukan mengukur kemampuan akademis, tetapi lebih difokuskan pada potensinya dan kemungkinannya berkembang secara optimal. Pada gilirannya, ketika siswa sudah diterima, TPA ini akan dilengkapi dengan tes kepribadian (EPPS-misalnya) sehingga sekolah setidaknya punya data yang bisa membantu untuk mengenal karakter pribadi masing-masing anak dan inilah salah satu bekal untuk mendampingi anak secara personal. Ketiga, siswa menjalani tes kognitif yang mencakup bahasa, IPS terpadu, matematika, dan IPA terpadu. Dari proses seleksi ini tampak bahwa siswa lebih dilihat dari kepribadian dan potensi akademis dan bukan berapa nilai UN-nya. Dengan kata lain, sekolah memberi kesempatan yang sama (adil) kepada semua pendaftar untuk menjalani ketiga tahapan tersebut.

Ketika siswa dinyatakan diterima, orang tua siswa diundang hadir dalam pertemuan umum dengan staf yayasan dan direksi sekolah. Dalam pertemuan itu dipaparkan visi-misi sekolah, arah pendidikan dan pendampingan, dan pembiayaan sekolah berikut pemanfaatannya secara transparan. Sampai pada bagian ini, orang tua diberi kebebasan untuk meneruskan proses administrasi atau tidak. Pertemuan ini sekaligus dilaksanakan untuk membangun komitmen dengan orang tua bahwa orang tua perlu terlibat aktif dalam pendampingan siswa. Minimal setahun sekali, orang tua/wali wajib hadir ke sekolah untuk menjalin komunikasi dan mengoptimalkan pendampingan siswa.

Selesai pertemuan umum, orang tua diundang hadir dalam wawancara keuangan dengan tim dari yayasan. Proses wawancara tentu tidak lagi bertele-tele mengingat dasar dan prinsip pendidikan di De Britto sudah dipaparkan dalam pertemuan umum. Pun gambaran pembiayaan persekolahan. Prinsip yang dikedepankan dalam wawancara ini adalah orang tua yang memiliki kemampuan keuangan lebih akan memberikan sumbangan secara lebih, sementara orang tua dengan ekonomi kurang akan tersubsidi oleh mereka yang berlebih. Inilah esensi subsidi silang. Yang kuat membantu yang lemah secara konkrit. Maka sumbangan pendidikan maupun SPP antar siswa pun pasti tidak sama.
Tentulah proses semacam ini membutuhkan waktu, perhatian, tenaga, dan biaya lebih. Tetapi ditilik dari proses dialog, membangun kesepahaman, sekaligus kualitas saringan akan menjanjikan sesuatu yang baik. Untuk itulah proses seleksi dilaksanakan jauh hari bahkan sebelum calon siswa lulus SMP. Ketika orang tua mendapat perlakuan secara adil, dan dalam proses pendampingan di sekolah pun diberi kesempatan untuk terlibat, maka kerjasama secara terbuka dan proporsional akan terwujud.

Pun ketika siswa mendapat perlakuan yang adil dibarengi dialog yang terbuka, ketika terjadi pelanggaran-pelanggaran akibat ketidaktertiban, nilai-nilai keadilan akan ”membadan” dalam diri siswa. Seorang siswa yang terlambat beberapa kali meski hanya lima menit karena selalu bangun kesiangan barangkali harus diberi sanksi atas ketidakmauanberubahnya dibandingkan dengan seorang siswa yang terlambat lebih dari satu jam pelajaran karena harus mengantar ibunya berobat ke rumah sakit. Dialog, saling mendengarkan, dan memahami konteks siswa kiranya lebih perlu dikedepankan daripada sekedar memberi sanksi atas ketidaktertiban. Dialog yang efektif tentulah dialog yang dilandasi rasa percaya. Anak akan merasa dihargai dan pada akhirnya memiliki rasa percaya diri ketika ia dipercaya.

Kesempatan berdialog dengan anak pun difasilitasi sekolah dengan menjadwal jam perwalian seminggu sekali. Suasana jam perwalian bukan suasana belajar-mengajar. Wali kelas hadir di kelas perwaliannya setiap Kamis pada pelajaran jam ke-6. Anak bisa berdialog, berdiskusi, dan berefleksi atas situasi kegiatan belajar mengajar atau kondisi kelas selama seminggu yang lalu. Evaluasi atas metode dan pola komunikasi guru mata pelajaran, perilaku teman di kelas, sampai persoalan-persoalan pribadi siswa sejauh boleh diketahui seluruh anggota kelas bisa diungkapkan pada jam perwalian.

Kepedulian, perhatian kepada teman dan orang lain akan selalu terasah dan membadan dalam diri siswa. Studi ekskursi dalam bentuk pengamatan sektor-sektor formal dan non-formal di sekitar sekolah, live-in, aksi sosial kiranya juga menjadi alat pengasah kepekaan dan analisis sosial siswa. Bantingan (sumbangan uang secara sukarela) untuk teman yang memerlukan—tanpa harus diarahkan guru—sudah berjalan secara spontan.

Suatu pengalaman mengharukan, ketika ibu seorang siswa sakit parah sehingga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari pun tidak cukup, si anak dianjurkan oleh teman-temannya untuk membawa nasi bungkus setiap hari. Dan setiap hari pula teman-teman lain selalu membeli dan mereka bisa makan bersama sembari meringankan beban keuangan temannya. Si anak tidak malu karena menggantungkan diri pada bantuan temannya, sementara teman lain bisa membantu tanpa harus menimbulkan ketergantungan pada si anak. Ketika seorang siswa tidak bisa mengambil ijasah karena SPP menunggak tiga bulan, secara spontan teman-teman sekelas membuat pengumuman, mengedarkan sumbangan, dan uang yang terkumpul lebih dari cukup untuk menutup tunggakan SPP dan siswa bisa mengambil ijasah.

Memberi kebebasan anak untuk menentukan pilihan secara bertanggung jawab adalah model pendampingan yang tampaknya tepat bagi remaja laki-laki sekarang ini. Pilihan untuk tidak memakai seragam, pilihan untuk memakai sepatu sandal, pilihan untuk memanjangkan rambut tentulah didasari oleh semangat ini. Di sisi lain, teladan, inilah kunci dari munculnya sikap saling berbagi sebagaimana di paparkan di atas. Nasihat Dorothy Law Nolte dalam bait-bait puisinya tentang perlakuan dan kondisi anak tumbuh kiranya bukan sekedar tumpukan kata-kata indah. Bila anak tumbuh dalam penerimaan, ia akan belajar mencintai. Bila anak mendapat haknya, ia akan bertindak adil, dan seterusnya.


Penutup

Memahami sharing di atas tuntulah segera tergambar betapa repotnya ketika (jika boleh disebut) mengupayakan pendidikan yang adil bagi anak-anak kita. Benar, subsidi silang tidak perlu disarankan digembar-gemborkan tanpa hasil yang konkrit, tetapi perlu dilakukan dengan menyediakan waktu dan kesempatan yang berlebih. Berdialog dengan anak untuk meluruskan proses berpikir tentu pula butuh energi ekstra dan akan lebih mudah jika itu diubah menjadi komando atau perintah. Tetapi kita hal-hal di atas sudah menjadi kebiasaan, sudah membadan, dan dipahami seluruh anggota komunitas sekolah, tentulah secara spontan hal itu akan teraktualisasikan.

Persoalannya sering berkutat pada bagaimana membangun paradigma yang sama dengan institusi lain (diknas-misalnya) sehingga tidak memandang konteks pendidikan di De Britto hanya dari bajunya yang tidak seragam dan rambutnya yang gondrong.

Pendidikan perlu membuat manusia terkejut, mengapa ia begitu tertutup, padahal kesadarannya menuntut, hanya bila mau terbuka maka ia akan bahagia. Pendidikan juga perlu membuat manusia kaget, mengapa ia begitu takut, padahal kesadarannya menuntut agar ia berani untuk memperjuangkan hidupnya. Pendidikan juga harus membuat ia benci terhadap dirinya sendiri, mengapa ia membenci dan menindas orang lain, padahal kesadarannya menuntut bahwa hanya dengan saling mencintai dan hormat satu sama lain, ia akan menjadi manusia bahagia dalam masyarakatnya. Pendidikan akhirnya harus membuat manusia bebas, tidak lagi mau diperalat oleh kekuatan yang telah lama memperdayainya. Karena pendidikan semacam itulah manusia bisa menjadi dirinya sendiri. Itulah larik-larik terakhir Sindhunata dalam tanda-tanda zaman-nya pada majalah dan edisi yang sama.***

-- dipresentasikan dalam diskusi Peran Pendidikan Bagi Keadilan Sosial di AMIKOM, Dinamika Edukasi Dasar (DED) Forum Mangunan, dan dimuat dalam buku terbitan DED --
Referansi

Adiartanto, AG. Prih dan J. Sumardianta, 2006. ”Menatah Kebajikan Khas Siswa”, dalam BASIS, No. 07-08 Tahun ke-55 Juli-Agustus.

Direktorat Dikmenum, 2000. Menejemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah. Jakarta: Depdiknas.

Darmaningtyas, 2005. Pendidikan Rusak-Rusakan. Yogyakarta: LKIS

Nolte, Dorothy Law. ”Dalam Kondisi Bagaimana Anak Anda Tumbuh?”

Provinsi Indonesia Serikat Yesus, 1987. Ciri-Ciri Khas Pendidikan Pada Lembaga Yesuit. Yogyakarta: Kanisius

Sindhunata, 2001 ”Tanda-Tanda Zaman: Awas Pedagogi Hitam” dalam BASIS, No. 01-02 Tahun ke-50 Januari-Februari.

Read More..

Menunggu Kematian Guru

SUARA PEMBARUAN DAILY

Menunggu Kematian Guru
Oleh Prih Adiartanto, Ag

Ada hal menarik ketika saya menugasi siswa menggambarkan sosok guru saat membahas materi menulis deskripsi dalam pengajaran di kelas. Sejumlah besar siswa mendeskripsikan guru seperti sosok Oemar Bakri dengan tas hitam, sepeda kumbang, lengkap dengan atribut kesederhanaan, layaknya lirik lagu Iwan Fals itu. Sejumlah siswa lain mendeskripsikan sosok Sarmun, guru nyambi tukang ojek yang pernah diperankan pelawak Basuki dalam sebuah sinetron. Sementara sebagian kecil siswa menggambarkannya sesuai syair Himne Guru baris terakhir: Engkau patriot pahlawan bangsa tanpa tanda jasa.

Tentu saja anak-anak muda yang saya hadapi ini tidak bermaksud guyonan apalagi mengejek. Berbagai persoalan yang dihadapi guru-guru Indonesia hampir setiap hari menghiasi media massa dan setiap istirahat mereka santap di ruang koran atau perpustakaan. Gaji dan tunjangan hidup yang rendah, profesionalitas yang semakin luntur, sampai penghargaan dan status sosial guru yang semakin merosot di mata masyarakat.

Tidak bisa dipungkiri, citra dan wibawa guru pada masa kolonial lebih tinggi dibandingkan dengan guru sekarang ini. Masa itu, guru adalah profesi yang sangat diidam-idamkan. Soedarminto (1998) mengilustrasikan seorang ibu guru menerima gaji 40gulden, padahal seorang inlander hanya perlu segobang (2,5 sen) untuk hidupnya. Tak heran jika sekolah keguruan menjadi incaran lulusan sekolah terbaik. Di samping fasilitas dan kemudahan yang diperoleh, status guru akan membawanya menuju strata atas dalam kelas masyarakat. Tidak sedikit guru yang kemudian sampai di puncak sebagai pimpinan masyarakat.

Para founding fathers negeri ini pun sebagian besar adalah guru atau setidaknya mengawali kariernya sebagai guru. Sukarno, Presiden pertama RI, pernah menjadi guru semasa pengasingannya di Bengkulan (sekarang Bengkulu). Begitu pula dengan Mohammad Natsir, Perdana Menteri Indonesia pada masa peralihan, adalah guru dan perintis berdirinya sebuah sekolah di Bandung. Soedirman dan A.H. Nasution adalah jenderal-jenderal yang pernah pula menjadi guru. Soedirman adalah guru dan kepala salah satu HIS di Cilacap, sedangkan A.H. Nasution pernah menjadi guru di Bengkulu dan kepala sekolah di Muara Dua, Palembang Hulu. Tidak dapat disangkal pula di antara tokoh-tokoh itu masih ada RM Soewardi Soerjaningrat atau lebih dikenal sebagai Ki Hajar Dewantara dan KH Ahmad Dahlan, seorang guru yang kiai.

Ironis, jika di masa lalu sekolah keguruan menjadi incaran siswa-siswa berprestasi, sementara IKIP/FKIP beberapa tahun terakhir sedikit sekali dilirik calon mahasiswa. Nama IKIP pun disinyalir tak layak jual lagi, maka berbondong-bondonglah IKIP mengubah diri menjadi universitas.

Ironis pula, jika di masa lalu seorang guru bisa berpenghasilan 40 gulden sebulan, sementara sekarang guru yang mengharap kenaikan gaji atau tunjangan harus berdemo rame-rame ke gedung DPR, mogok mengajar, atau lebih parah lagi harus ngojek atau jadi tukang batu di sela-sela waktu luangnya. Sebuah surat kabar beberapa waktu lalu bahkan secara jelas memberitakan 70 persen pendidik swasta bergaji di bawah UMR.

Wajar jika kemudian tak ada satu pun dari sekian anak muda yang saya hadapi di kelas itu secara tegas mengatakan atau setidaknya berniat menjadi guru. Hampir sebagian besar siswa justru secara eksplisit menulis ketidakinginannya. Ad Maiorem Dei Gloriam (untuk kemuliaan Tuhan yang lebih besar) yang disingkat AMDG sebagai spirit sekolah pun di-pleset-kan menjadi Aku Moh Dadi Guru (aku tidak mau jadi guru).

Dana Pendidikan

Mutu pendidikan Indonesia rendah. Hasil survei PBB tahun 2002 menunjukkan bahwa dari 180 negara, Indonesia berada pada posisi 102. Ketika mutu pendidikan dinilai rendah, maka sasaran tembak pertama adalah guru. Guru sebagai pelaku utama pendidikan adalah kambing hitam persoalan. Berbagai dakwaan muncul: guru tidak profesional, guru tidak bertanggung jawab mengajar tapi justru nyambi cari objekan.

Guru sendiri yang serba sulit -di satu sisi mencoba menjalankan tugasnya dan di sisi lain mencoba berjuang agar dapurnya tetap ngebul- ganti berteriak, bahwa kurikulum terlalu berat sementara penghasilannya sebagai guru tidak mencukupi. Alhasil, bongkar pasang kurikulum bukan hal asing di negeri ini. Bahkan sampai muncul pameo: ganti menteri pasti ganti kurikulum.

Ketika kurikulum demikian berat membebani guru dan siswa, sementara guru masih disibukkan dengan administrasi pengajaran dan mencari kerja sambilan; bagi siswa yang berlebih dana akan lari ke lembaga-lembaga bimbingan belajar. Ketika lembaga bimbingan belajar menjanjikan cara-cara gampang dan instan untuk mengerjakan suatu hal, siswa akan lebih menaruh minat dan respek pada lembaga itu daripada kepada sekolah atau guru. Lalu, bagaimana dengan mereka yang kekurangan dana? Hasilnya adalah sinyalir beberapa pakar pendidikan yang menyatakan bahwa kurikulum saat ini hanya bisa diikuti tidak lebih dari 10 persen siswa seluruh Indonesia.

Guru semakin terpinggirkan. Sementara persoalan pendidikan (mengajar) bukan sekadar transfer pengetahuan (knowledge), tetapi juga nilai-nilai (value) dan keutamaan-keutamaan hidup. Bagaimana pula ketika tawuran, kekerasan menjadi pilihan ekspresi anak sekolah? Lagi-lagi guru menjadi kambing hitam persoalan, karena pendidikan budi pekerti tidak jalan. Seperti lingkaran setan dan semuanya bermuara pada guru.

Lalu bagaimana soal dana pendidikan? Alokasi anggaran sektor pendidikan dalam APBN masih lebih rendah dibandingkan dengan sejumlah negara di kawasan Asia. Tahun 2000, alokasi anggaran pendidikan Indonesia hanya 6,3 persen dari APBN, sementara Singapura, Thailand, dan Korea Selatan sudah sampai pada angka 20 persen.

Angin segar sebenarnya berhembus ketika menyimak amanat amandemen keempat UUD'45 pasal 31 yang menyatakan bahwa dana pendidikan Indonesia sebesar 20 persen dari total APBN. Tetapi apa mau dikata jika beberapa waktu kemudian di kalangan wakil rakyat pun belum tercapai kesepahaman angka 20 persen itu. Lebih parah, harus dibilang dengan apa lagi jika ternyata banyak terjadi kebocoran dana di lingkungan pendidikan sebagaimana ditemukan BPK hasil pemeriksaan semester I tahun 2002?

Era otonomi daerah (pendidikan) sekarang ini, pengambil kebijakan soal dana, tunjangan kesejahteraan guru lebih banyak dipegang oleh pemerintah daerah (pemda). Akan terpecahkankah keresahan guru selama ini jika potensi masing-masing daerah Indonesia berbeda? Bagaimana pula menyikapi pemda yang birokratis, membatasi sekat-sekat wilayah ruang gerak guru sehingga otonomi justru menghasilkan pengkotak-kotakan guru itu?

Di samping kurikulum dan dana, gurulah yang menjadi pokok persoalan pendidikan di Indonesia. Seorang rektor perguruan tinggi di Jakarta beberapa waktu lalu menilai bahwa guru Indonesia belum menjadi guru cendekiawan karena guru-guru Indonesia tidak dididik untuk menjadi seorang cendekiawan.

Lebih lanjut Direktur Pembina Tenaga Kependidikan dan Keterampilan Perguruan Tinggi Depdiknas menambahkan bahwa kebanyakan guru Indonesia merasa sudah cukup puas dengan mengajar di kelas dan tidak berusaha meningkatkan kemampuannya.

Akar persoalan bisa ditelusuri: bagaimana guru mencapai kompetensi optimal jika pilihan masuk lembaga keguruan sudah alternatif yang kesekian? Bagaimana pula guru bisa mengoptimalkan profesionalitasnya jika energinya harus terbagi untuk bersiasat memenuhi kebutuhan hidup? Beban kerja minimal seorang guru adalah 24 jam per minggu dan di luar itu mereka masih harus mengerjakan tugas-tugas akademik (mengoreksi pekerjaan/tugas siswa), melakukan tugas- tugas pendampingan (membimbing kegiatan ekstrakurikuler, dan kegiatan pembinaan lain).

Tidak wajar jika tugas mengajar per jam dihargai maksimal Rp 10.000 sehingga didapat Rp 168.000 (per minggu = sebulan untuk hitungan gaji guru), ditambah dengan tunjangan Rp 75.000; maka penghasilan seorang guru tidak tetap Rp 315.000 per bulan.

Bagaimana guru bisa hidup jika untuk memenuhi kebutuhan dasar (basic need) yang layak bagi seorang guru bujang adalah Rp 960.000 per bulan, dan Rp 1,4 juta untuk mereka yang sudah menikah tetapi belum punya anak? Meneriakkan pentingnya profesionalitas guru menyangkut kualifikasi dan kompetensi tentu tidak bisa meniadakan faktor gaji dan kesejahteraan.

Sesungguhnya yang diperlukan guru saat ini adalah pemberian kesempatan untuk meningkatkan kualitas dan profesionalitas, serta peningkatan kesejahteraan sampai pada taraf di mana guru tidak perlu lagi membagi konsentrasi dan energinya ke hal-hal lain selain pada fungsi "mendidik"-nya.

Ketika melihat sekolah tidak berfungsi sebagaimana mestinya, Roem (2001) menyebutnya sebagai sekolah sudah mati. Lalu, harus dikatakan dengan apa jika guru pun sudah tidak berperan sebagaimana mestinya? Menjadi terlalu kasar jika kemudian dikatakan guru sudah mati. Tetapi bukan tidak mungkin jika persoalan yang menimpa guru di negeri ini tidak kunjung terpecahkan, Oemar Bakri atau pak guru Sarmun tak lagi punya sepeda kumbang atau motor ojek. Kedua kendaraan itu sudah digadaikan untuk membiayai pengobatan sakitnya.

Sementara mereka berdua tak kunjung sembuh, bahkan sekarat tergeletak tak berdaya di balai-balai menunggu ajal! Bukan tidak mungkin pula Himne Guru yang megah dan syahdu itu berangsur-angsur berganti menjadi lagu requiem yang menyayat kalbu.***

Penulis adalah guru dan staf Litbang SMU Kolese de Britto Yogyakarta.

Last modified: 17/12/2002

Read More..

Mari berkarya lewat FILM

Bedah Film: Mengejar mas-mas

Membuat Film itu mudah. Itulah sekelumit pernyataan yang terlontar dari mbak Lala Hamid, dari depic production, produser film ini. Menurut beliau, ide menjadi hal yang paling utama untuk digarap secara matang. Keaslian! Itulah yang dituntut. Banyak pembuat film muda mengeluh karena keterbatasan alat yang mereka buat, padahal sebenarnya alat hanya sebuah sarana. Film yang mengambil setting di Jogja ini merupakan arahan sutradara Rudi Sujarwo. Menurut Montitiwa, penulis script, diambilnya setting Jogjakarta karena kebosanannya dengan kota Jakarta. “Saya muak dengan film bersetting di Jakarta,” ujar Montitiwa. “Jogja punya sawah, malioboro dan sesuatu yang tidak ada di Jakarta”, imbuhnya.

Di lain pihak, Agus Prih Adiartanto –pengamat film indie jogja- juga menyatakan bahwa para pembuat film di Jogja belum bisa sampai pada pemaknaan film itu sendiri. “mereka hanya bingung dengan alat yang ada”, katanya.

Buat para sineas muda Jogja, selamat berkarya!!!

suasana bedah film m3. pada bedah film ini, juga diputarkan trailer dari film ini yang menampilkan aktris utama, Dina Olivia..
Poppy Soviaini mempunyai pengalaman unik dengan Jogja, terutama dengan angkringan. Gadis berusia 23 tahun ini sempat menambah makan sebanyak 3 kali ketika pertama kali makan di kafe dengan 3 cerek itu..
penulis naskah mengejar mas-mas, bung Montitiwa
Produser film mengejar mas-mas. Mbak Lala Hamid, depic production
Dwi sasono, pria yang berasal dari surabaya ini, berperan sebagai parno.
poster M3ce I. (Cil)-k.


cited from http://chandrasena.multiply.com/photos/album/8/Mari_berkarya_lewat_FILM_
Read More..

Le Bourgeius Gentilhomme

Kedaulatan Rakyat, Selasa, 25 Februari 2003, Rubrikasi Kaca

‘Orang Kaya Baru’ Direspons Pelajar


PERGELARAN drama lakon ‘Orang Kaya Baru’ (OKB) yang dimainkan kolaborasi SMU De Britto dan SMU Stella Duce (Stece) I Yogya, di Gedung Sositet Taman Budaya Yogya Jl Sriwedani, dua malam berturut-turut Jumat-Sabtu (21-22/2), direspon para pelajar. Mereka mau menonton drama itu. Penonton yang menyaksikan drama cerita yang disadur N. Riantiarno, dari judul aseli ‘Le Bourgeius Gentilhomme’ karya Moliere dan disutradarai Hermanjoyo dan Goes P Adiartanto malam itu, bukan hanya pelajar SMU De Britto dan Stece I namun juga dari SMU di Yogya lainnya.

Eloknya, pementasan malam kedua, sebelum pertunjukan berlangsung, tiket yang dijual Rp 5 ribu sudah habis. Menurut Hermanjoyo, keberhasilan penonton drama OKB cukup menggembirakan karena meski teater sekolah namun mampu menarik pelajar SMU di Yogya mengapresiasi pergelaran teater. Artinya, bila setiap pergelaran teater SMU di Yogya, bisa mendapatkan respons positif pelajar, kehidupan teater SMU akan lebih bergairah dan berkembang. “Terlebih, jika antarpelajar SMU di Yogya mampu membangun komunikasi, berinteraksi dan mau menyaksikan setiap pergelaran teater SMU di sekolah maupun di gedung pertunjukan seperti malam ini, cukup membanggakan. Artinya, teater SMU sebagai kegiatan ekstrakurikuler selain bisa didapatkan berbagai pengalaman, belajar berorganisasi, bekerja kolektif, juga dapat menjadi media untuk menambah sahabat.

Antarpelajar yang semula tak kenal karena dari proses bersama berkolaborasi atau menyaksikan proses berteater menjadi akrab,” kata Hermanjoyo, saat ditemui KR, seusai pergelaran di Gedung Sositet, malam Minggu.Landung Rusyanto Simatupang, aktor teater Yogya mengamati, pergelaran drama ‘OKB’ hasil kolaborasi SMU De Britto dan SMU Stece I Yogya, cukup bagus. Artinya, kalau melihat anak-anak SMU bermain teater sudah bisa menjaga irama permainan di atas pentas dan membangun komunikasi dengan penonton dapat dikatakan berhasil. “Humor-humor yang direspons penonton itu, menunjukkan bahwa pergelaran drama OKB irama permainannya sudah tergarap. Saya kira untuk menggarap irama permainan dengan didukung pemain anak-anak SMU bukan pekerjaan mudah. Selain itu, saya salut pergelaran OKB ini dimainkan dua sekolah SMU yang mampu berkolaborasi.

Bila 2-3 SMU di Yogya yang memiliki kegiatan ekstrakurikuler teater bisa melakukan tradisi berkolaborasi, teater SMU di Yogya akan lebih berkembang. Sebab, saat ini Festival Teater tingkat SLTA di Yogya bisa dikatakan sepi. Paling tidak, dengan berkolaborasi 2-3 SMU bikin pertunjukan akan lebih bagus dan suatu saat kalau sudah matang, dapat digelar bersama atau mengadakan parade teater SMU,” saran Landung.Dia menjelaskan, belajar teater tidak harus jadi seniman.

Namun pelajar yang mau berteater akan mendapatlan berbagai pengalaman banyak mulai dari belajar organisasi, mengasah kecerdasan dan rasa serta bekerja secara kolektif. “Untuk itu, kalau teater SMU bisa semarak sebagaimana tahun 1970-1980-an, saya kira cukup menggembirakan. Sayang kalau di Yogya yang dikenal kota pendidikan teater SMU tak marak. Saya berharap teater SMU di Yogya bisa gayeng dan pergelaran teater di Yogya kian marak,” kata Landung.

Goes P Adiartanto memaparkan, ‘OKB’ sebuah kisah satir yang menertawakan dan memperolok kekonyolan orang kaya baru bernama Jordana, yang semula pedagang kain gagap menyikapi perubahan hidup ini. ‘OKB’ rencananya akan digelar kembali di Taman Budaya Surakarta (TBS), Sabtu (1/3) malam yang akan datang. Para pendukung ‘OKB’, di antaranya Gludug Ariyo Purnomo, Dias Wikarto, Meliantha Vania, Otto Sebastian, Nobi Susilo, Novi Sartika, Ratih Vidyaparamita, dan Jericho Putranto. Koreografi ditangani Sisilia Asih, kostum dan rias dibantu dari Heru Salon. Tata musik digarap Gemak Budi S, Laras, Asri bersama siswa-siswi SMU De Britto dan Stece I. (Cil)-k.

Read More..