Prolog...

In this part of pilgrim, I pick up these scattering notes along the pathway. Whether they are friend’s words or mine that is touching and inspiring. Maybe, in these traced footprints, there are memories worth reflected, there is flame that flare up spirits, and there are inspirations that flashing imaginations. Hope you love reading my notes.

One Minute Wisdom

Spoon boy: Do not try and bend the spoon. That's impossible. Instead only try to realize the truth. Neo: What truth? Spoon boy: There is no spoon. Neo: There is no spoon? Spoon boy: Then you'll see that it is not the spoon that bends, it is only yourself.

Tampilkan postingan dengan label Teater. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Teater. Tampilkan semua postingan

Teater Sekolah

TEATER SEKOLAH: RUANG EKSPRESI DAN PENGALAMAN

"Aku tidak mengerti mengapa Ibu Guru tidak mengerti aku,
tetapi aku juga tidak mengerti
mengapa aku tidak pernah mengerti"


Begitulah kira-kira sesobek catatan kecil yang sempat ditulis seorang siswa kelas 4 SD sebelum bunuh diri yang pernah dimuat di Harian Kompas tiga belas tahun lalu. Catatan seorang anak ‘kecil’ yang sesungguhnya ‘dewasa’. Lebih daripada itu, tampak bahwa kesempatan berdialog, berkomunikasi, berbagi, dan mengekspresikan diri sungguh menjadi penting dalam dunia pendidikan (baca: persekolahan) dengan kurikulum yang demikian berat dan tak bersahabat.

Memberi ruang kepada siswa untuk berkreasi dan mengekspresikan diri adalah salah satu hal yang ingin dicapai dalam proses pendidikan. Teater sekolah yang terbingkai dalam kegiatan ekstrakurikuler adalah salah satu dari ruang itu. Dengan kata lain, teater sekolah mestilah tetap berada pada frame pendidikan.

Perlu strategi tersendiri dalam menemani rekan-rekan pelajar SMU belajar berteater. Betapa tidak? Dasar-dasar teater yang digeluti di kelas satu, dan umumnya telah cukup mantap di kelas dua, harus kembali berulang ketika siswa kelas satu masuk sebagai anggota baru. Pun begitu siswa kelas dua naik ke kelas tiga, mereka sudah tak lagi wajib mengikuti kegiatan ektrakurikuler –termasuk teater. Begitulah dinamika yang terjadi setiap tahun.


Sebagai kegiatan ekstrakurikuler, kita pun harus berkompromi dengan aktivitas belajar siswa yang lain seperti praktikum, les, bimbingan belajar, tugas-tugas kokurikuler, dan aktivitas belajar intrakurikuler sebagai kegiatan pokok siswa.

Keputusan untuk memproduksi pementasan pun sejak awal sudah terbayang keringat dan air mata yang harus menetes. Bagaimanapun juga teater sekolah berbeda dengan kelompok/sanggar teater di luar tembok sekolah. Pada posisi ini, teater sekolah sering kali hanya dipandang sebelah mata. Juga untuk urusan pengajuan proposal dalam rangka menutup ongkos produksi: tak jarang kami sekedar mendapat ucapan terima kasih –tidak lebih; bahkan pernah terjadi pula kami menerima sumbangan (bukan sponsor) yang jauh dibawah biaya fotokopi dan jilid proposal (meski kami harus tinggalkan proposal itu). Mengandalkan dana sekolah tentu tidak akan mencukupi.

Memberi pemahaman bahwa teater adalah seni kolektif bukan tanpa kendala. Anggapan yang muncul: kalau seorang siswa tidak ter-casting, maka ia merasa tidak ikut berpentas. Sungguh tidak gampang membangun pemahaman bahwa masuk dalam tim produksi sama derajat dan tanggung jawabnya dengan pemain. Tidak mudah pula menumbuhkan kesadaran bahwa musik, tari menjadi satu kesatuan yang utuh-padu bagi pementasan. Belum lagi memotivasi agar siswa berani mengeksplorasi gerak, karakter –agar tidak semata-mata sekedar dicekoki dan diperintah ala robot.

Syukurlah, dalam dinamika refleksi – evaluasi – aksi, keringat dan air mata masih mengguratkan senyum. Meski untuk itu kami harus mohon bantuan pada rekan-rekan di luar komunitas Teater de Britto dan Teater Bende Stece 1. Untuk itu, pada kesempatan ini kami ingin mengucapkan terima kasih atas dukungan dan kerelaan teman-teman pada pementasan kali ini (maaf, karena terlalu banyak saya tidak bisa menyebut Anda satu per satu dalam tulisan ini.)

Ketika layar panggung telah dibuka, yang tampak jelas di depan mata adalah hasil akhir dari sebuah proses panjang berliku. Mudah-mudahan proses yang telah kami jalani bukan menjadi excuse atas camping yang mungkin terbaca di banyak sisi, tetapi justru lewat proses inilah kami bersyukur telah menemukan banyak mutiara yang tidak kami dapati di ruang-ruang kelas.

Untuk menyudahi sharing ini saya ingin menunjuk satu kata kunci: PENGALAMAN. Hasil dari kesempatan mengalami itulah yang membuat kami masih boleh berjalan dengan kepala tegak. Apapun hasilnya, toh kami telah memberanikan diri mengundang Anda untuk mengapresiasi.

Selamat berapresiasi!
suatu siang di ruang komputer kantor guru
Goes P. Adiartanto

Read More..

Le Bourgeius Gentilhomme

Kedaulatan Rakyat, Selasa, 25 Februari 2003, Rubrikasi Kaca

‘Orang Kaya Baru’ Direspons Pelajar


PERGELARAN drama lakon ‘Orang Kaya Baru’ (OKB) yang dimainkan kolaborasi SMU De Britto dan SMU Stella Duce (Stece) I Yogya, di Gedung Sositet Taman Budaya Yogya Jl Sriwedani, dua malam berturut-turut Jumat-Sabtu (21-22/2), direspon para pelajar. Mereka mau menonton drama itu. Penonton yang menyaksikan drama cerita yang disadur N. Riantiarno, dari judul aseli ‘Le Bourgeius Gentilhomme’ karya Moliere dan disutradarai Hermanjoyo dan Goes P Adiartanto malam itu, bukan hanya pelajar SMU De Britto dan Stece I namun juga dari SMU di Yogya lainnya.

Eloknya, pementasan malam kedua, sebelum pertunjukan berlangsung, tiket yang dijual Rp 5 ribu sudah habis. Menurut Hermanjoyo, keberhasilan penonton drama OKB cukup menggembirakan karena meski teater sekolah namun mampu menarik pelajar SMU di Yogya mengapresiasi pergelaran teater. Artinya, bila setiap pergelaran teater SMU di Yogya, bisa mendapatkan respons positif pelajar, kehidupan teater SMU akan lebih bergairah dan berkembang. “Terlebih, jika antarpelajar SMU di Yogya mampu membangun komunikasi, berinteraksi dan mau menyaksikan setiap pergelaran teater SMU di sekolah maupun di gedung pertunjukan seperti malam ini, cukup membanggakan. Artinya, teater SMU sebagai kegiatan ekstrakurikuler selain bisa didapatkan berbagai pengalaman, belajar berorganisasi, bekerja kolektif, juga dapat menjadi media untuk menambah sahabat.

Antarpelajar yang semula tak kenal karena dari proses bersama berkolaborasi atau menyaksikan proses berteater menjadi akrab,” kata Hermanjoyo, saat ditemui KR, seusai pergelaran di Gedung Sositet, malam Minggu.Landung Rusyanto Simatupang, aktor teater Yogya mengamati, pergelaran drama ‘OKB’ hasil kolaborasi SMU De Britto dan SMU Stece I Yogya, cukup bagus. Artinya, kalau melihat anak-anak SMU bermain teater sudah bisa menjaga irama permainan di atas pentas dan membangun komunikasi dengan penonton dapat dikatakan berhasil. “Humor-humor yang direspons penonton itu, menunjukkan bahwa pergelaran drama OKB irama permainannya sudah tergarap. Saya kira untuk menggarap irama permainan dengan didukung pemain anak-anak SMU bukan pekerjaan mudah. Selain itu, saya salut pergelaran OKB ini dimainkan dua sekolah SMU yang mampu berkolaborasi.

Bila 2-3 SMU di Yogya yang memiliki kegiatan ekstrakurikuler teater bisa melakukan tradisi berkolaborasi, teater SMU di Yogya akan lebih berkembang. Sebab, saat ini Festival Teater tingkat SLTA di Yogya bisa dikatakan sepi. Paling tidak, dengan berkolaborasi 2-3 SMU bikin pertunjukan akan lebih bagus dan suatu saat kalau sudah matang, dapat digelar bersama atau mengadakan parade teater SMU,” saran Landung.Dia menjelaskan, belajar teater tidak harus jadi seniman.

Namun pelajar yang mau berteater akan mendapatlan berbagai pengalaman banyak mulai dari belajar organisasi, mengasah kecerdasan dan rasa serta bekerja secara kolektif. “Untuk itu, kalau teater SMU bisa semarak sebagaimana tahun 1970-1980-an, saya kira cukup menggembirakan. Sayang kalau di Yogya yang dikenal kota pendidikan teater SMU tak marak. Saya berharap teater SMU di Yogya bisa gayeng dan pergelaran teater di Yogya kian marak,” kata Landung.

Goes P Adiartanto memaparkan, ‘OKB’ sebuah kisah satir yang menertawakan dan memperolok kekonyolan orang kaya baru bernama Jordana, yang semula pedagang kain gagap menyikapi perubahan hidup ini. ‘OKB’ rencananya akan digelar kembali di Taman Budaya Surakarta (TBS), Sabtu (1/3) malam yang akan datang. Para pendukung ‘OKB’, di antaranya Gludug Ariyo Purnomo, Dias Wikarto, Meliantha Vania, Otto Sebastian, Nobi Susilo, Novi Sartika, Ratih Vidyaparamita, dan Jericho Putranto. Koreografi ditangani Sisilia Asih, kostum dan rias dibantu dari Heru Salon. Tata musik digarap Gemak Budi S, Laras, Asri bersama siswa-siswi SMU De Britto dan Stece I. (Cil)-k.

Read More..

Orang Kaya Baru

Kedaulatan Rakyat, Sabtu, 22 Februari 2003.
Panggung
TEATER DE BRITTO-STECE I; Gelar Drama ‘OKB’ di Societet

SEKITAR 50 pelajar SMU De Britto dan SMU Stella Duce (Stece) I Yogya, berkolaborasi menggelar drama dengan lakon ‘Orang Kaya Baru’ (OKB) naskah saduran N Riantiarno dari judul asli ‘Le Bourgeuis Gentilhomme’ karya Moliere, di Gedung Societet Jl Sriwedani Yogya, Jumat-Sabtu (21-22/2) mulai pukul 19.30.

Setelah dipentaskan di Yogya, cerita ‘OKB’ yang disutradarai oleh Hermanjoyo dan Agus Prih, juga akan digelar di Taman Budaya Surakarta (TBS), Sabtu (1/3) mendatang.


Menurut Hermanjoyo, alasan mengangkat lakon ‘OKB’ selain bisa melibatkan banyak pemain, ceritanya menarik dan disajikan secara jenaka. Melihat pendukung yang terlibat terdiri pelajar SMU, untuk penggarapan tidak menerapkan dramaturgi secara ketat, karena yang terpenting mereka bisa memahami proses berteater.Kegiatan teater bisa dijadikan ajang bagi mereka untuk olah rasa, pikir dan bekerja secara kolektif. Karena itu, dalam produksi ‘OKB’ ini sebagian siswa ada yang menangani produksi sekaligus pemain.

Sejak pembuatan proposal, mencari sponsor, proses latihan hingga pergelaran dikerjakan oleh siswa. “Yang menggembirakan, pergelaran ini memperoleh dukungan dari para alumni SMU De Britto. Ada yang menangani tata artistik, musik, kostum dan koreografi,” ungkap Hermanjoyo, yang juga pembimbing Teater De Britto.

Dia menambahkan, lakon ‘OKB’ sebuah kisah satir yang menertawakan dan memperolok kekonyolan orang kaya baru bernama Jordana, pedagang kain yang gagap menyikapi perubahan hidup yang dijalani.Pentas teater ini didukung pemain antara lain Gludug Ariyo Purnomo, Dias Wikarto, Meliantha Vania, Otto Sebastian, Nobi Susilo, Novi Sartika, Ratih Vidyaparamita, Jericho Putranto. Untuk tata musik digarap Gemak Budi S, Laras, Asri bersama siswa-siswi SMU De Britto dan Stece I. Koreografi ditangani Sisilia Asih, kostum dan rias dibantu dari Heru Salon. (Cil)
Read More..