Prolog...

In this part of pilgrim, I pick up these scattering notes along the pathway. Whether they are friend’s words or mine that is touching and inspiring. Maybe, in these traced footprints, there are memories worth reflected, there is flame that flare up spirits, and there are inspirations that flashing imaginations. Hope you love reading my notes.

One Minute Wisdom

Spoon boy: Do not try and bend the spoon. That's impossible. Instead only try to realize the truth. Neo: What truth? Spoon boy: There is no spoon. Neo: There is no spoon? Spoon boy: Then you'll see that it is not the spoon that bends, it is only yourself.

Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Classroom Climate

Creating a positive classroom climate for learning

I’ve come to the frightening conclusion that I am the decisive element in the classroom. It is my personal approach that creates the climate. It is my daily mood that makes the weather. As a teacher, I possess a tremendous power to make a child’s life miserable or joyous. I can be a tool of torture or an instrument of inspiration. I can humiliate or humor, hurt or heal. In all situations, it is my response that decides whether a crisis will be escalated or deescalated and a child humanized or dehumanized.
Haim Ginot, Professor of Psychology


If we were to recall a teacher who we felt had a positive influence on us during our student days, we are most likely to think of a teacher who had made us feel comfortable and through the teacher’s ability to make us feel comfortable, we are able to learn what we have been given to learn. Modern cognitive research also shows that the brain cells would shrink in the face of a hostile environment as for example when we feel fear or unsafe. On the other hand, the same brain cell would grow and develop if the environment is safe and comfortable. A teacher, therefore, ought to be aware that the classroom climate is the most important condition for learning to take place. The teacher must cultivate positive attitudes and perceptions about learning among the students.

The creation of safe, non-threatening and conducive environment to learning is a pre-requisite to good teaching. A teacher must make the effort to create such an environment. The teacher would have to ask several questions to achieve this goal. For example, the teacher must ask what makes the students feel accepted in the class. Acceptance here, refers to acceptance not only by all the teachers teaching that class but also the student’s peers.

The teacher must also ask what makes the student comfortable. Is there order in the class? Do students know where to look for things? Do they know the classroom procedures? Do they know what is expected of them when they come into the classroom and when tasks are given? A well-run classroom will give the student that feeling of stability and focus.

There are also many things that the teacher can do to make the classroom a less threatening and intimidating place. A classroom should be a safe place for learning. The student must be free from not only physical hurt but also, and perhaps, more importantly, hurt from the words of their peers and teachers. I believe all of us know that words can harm the confidence and motivational level of students more than perhaps physical threats. Unfortunately, threats and intimidation are quite often the norm in classrooms all over the world.

The teacher also must seriously attempt to make the learning as suitable as possible for the learner. Students like to see relevance. Teachers must make the extra effort to connect for the students what they are learning to their own lives. If the students’ perceptions of the learning is that it has little relevant to them, they are less likely to be interested or motivated to learn. Furthermore, as I have mentioned in a previous posting, making the connection for students is actually teaching for transfer.

The teacher must also ensure that the learning is not too difficult for the student. The teacher should stretch the student but the stretching must not be done at the expense of learning being done in progressive and logical steps. The teacher must make sure that bridges are made during lessons so that the student can understand easier the new content. Scaffolding becomes important in the teaching and learning. The student should feel that the learning is manageable and that it does not require a quantum leap in the mental processes.

Teachers who are mindful of their students’ perceptions and attitudes towards learning will find that their students will be more enthusiastic and motivated to do well in class. Teachers can make or break students. That is how pwerful a teacher can be. As insinuated by the quotation that I began this post with, that power demands greater responsibility on our part in how we treat our students.
Read More..

In Memoriam Guru

Jawa Pos Minggu, 08 Des 2002
Resensi Buku
Judul: In Memoriam Guru; Pengarang: Dr. Suroso; Penerbit: Jendela, Yogyakarta; Cetakan : Pertama, Agustus 2002; Halaman: x + 220 (termasuk indeks)


KLIPING KETERPURUKAN GURU
Oleh: Prih Adiartanto, Ag.*)

Potret guru Sarmun yang dilakonkan pelawak Basuki dalam sinetron beberapa tahun lalu, itulah ilustrasi yang lebih dari tiga kali digunakan Suroso untuk menggambarkan keadaan guru. Pun nasib guru Oemar Bakri-nya Iwan Fals, tidak kurang dari lima kali pula dipakai untuk menganalogkan betapa tidak berdayanya sosok guru di Indonesia.

Berbicara tentang nasib guru di Indonesia memang tidak bisa lari dari dua ilustrasi di atas. Selalu kembali ke itu-itu juga. Klise mungkin, tapi itulah faktanya. Beragam masalah yang dihadapi guru-guru Indonesia tidak pernah beranjak dari gaji dan tunjangan hidup yang rendah, profesionalitas yang luntur, hingga penghargaan dan status sosial yang semakin tidak berarti. Apa yang salah dalam sistem pendidikan Indonesia hingga profesi guru justru mengalami kemunduran –bahkan terpuruk– dibanding zaman prakemerdekaan?

Lewat “kliping”-nya, Suroso mencoba mengurai benang ruwet pendidikan Indonesia pada umumnya dan nasib guru pada khususnya. Jika disistematisasikan, ada tiga persoalan mendasar yang dibidik Suroso dalam buku ini. Persoalan pertama berkaitan dengan kebijakan pemerintah dalam kerangka reformasi pendidikan. Persoalan kedua berkaitan dengan profesi guru, dan ketiga berkaitan dengan peran/posisi perguruan tinggi sebagai “pencetak” tenaga-tenaga profesional.

***

Setidaknya ada sepuluh dari 27 tulisan di buku ini yang secara intens mengkritisi kebijakan pemerintah dalam konteks reformasi pendidikan. Secara spesifik, gagasan Suroso bertitik tolak dari laporan Bank Dunia yang merekomendasikan perlunya desentralisasi pendidikan dan otonomi sekolah di Indonesia. Pemerintah perlu belajar dari gagasan Henry M. Levin tentang Accelerated School for At Risk Student yang berhasil mendongkrak kualitas pendidikan di Amerika (h.8). Atau bagaimana usaha Jepang memacu SDM yang berkualitas (h.22).

Lebih tegas lagi, pemerintah harus menghapus sistem pendidikan nasional yang terpusat; kaku; mendewakan pengetahuan – menisbikan sikap, moral, dan spiritual (h.131). Dalam kerangka desentralisasi, beban kurikulum terlalu berat (h.7); perlu dibangun kesepahaman dan kerjasama antara pemerintah, sekolah, dengan masyarakat; dan perlu tersedianya sarana-prasarana pendidikan yang memadai (h.52).

Profesionalitas guru sangat rendah. Rendahnya profesionalitas itu dipicu oleh beberapa aspek. Pertama, IKIP/LPTK sebagai “pencetak” guru selalu kebagian mahasiswa “sia-sia” (h.40), mahasiswa yang tidak diterima di universitas favorit, tidak bermotivasi menjadi guru, dan sekedar kuliah daripada menganggur. Kedua, tunjangan kesejahteraan guru sangat rendah. Tidak sedikit guru harus nyambi tukang ojek, pencari rumput, atau bercocok tanam untuk sekedar mencukupi kebutuhan hidup minimalnya (h. 41). Ketiga, karena ketiadaan dana itulah maka guru tidak memiliki kesempatan untuk mengaktualisasikan diri melalui diklat, seminar, membaca koran, menulis, atau bahkan mengadakan penelitian. Setidaknya ada delapan tulisan yang secara spesifik berbicara soal guru. Semuanya bermuara pada tingkat kesejahteraan dan berimbas pada citra dan profesionalitas guru.

Perguruan tinggi ikut andil terhadap rendahnya kualitas pendidikan Indonesia. Secara panjang lebar, Suroso mempersoalkan tradisi dan sikap ilmiah yang kurang dibangun di lembaga pendidikan tinggi. Bukan hanya mahasiswa tetapi juga dosen yang tidak memiliki motivasi untuk meneliti. Keadaan ini lebih diperparah lagi dengan munculnya kasus jiplak-menjiplak skripsi/tesis. Persoalannya bukan lagi sekedar sikap dan tradisi ilmiah tetapi sudah merambah etika akademik profesional (h.208).

Ada satu tulisan panjang dan cukup mengganggu untuk memahami buku ini secara utuh. Teaching and Learning in the Elementary School (h.87-115) sebenarnya terlalu jauh untuk dikaitkan dengan ke-26 tulisan lainnya. Tulisan ini tampaknya sebuah book review dengan gaya bahasa dan gaya penulisan yang lain sekali. Kesan yang muncul, tulisan ini sekedar ditempelkan begitu saja.

***

Amat disayangkan, kumpulan tulisan yang banyak merekam fakta dan data-data kronisnya guru dan pendidikan Indonesia ini tidak disusun secara sistematis. Tiga sasaran dan ruang lingkup pembicaraan di atas kiranya dapat dipakai untuk mengurutkan gagasan dalam buku ini. Ketidaksistematisan itu juga belum terjembatani oleh kata pengantar Prof. Dr. Sabarti Akhadiah. Kata pengantar tersebut belum berfungsi sebagai benang merah antara ide tulisan satu dengan ide tulisan lain, sehingga tidak mudah memahami kumpulan tulisan ini sebagai sesuatu yang utuh-padu.

Editor tampaknya harus bekerja lebih keras memoles tulisan-tulisan yang sudah tidak baru lagi –untuk tidak menyebut basi—agar sedap dibaca sebagai sebuah buku. Kerja keras editor juga perlu diarahkan pada kesalahan-kesalahan ketik yang sebenarnya tidak perlu terjadi. Karena buku ini adalah kliping tulisan yang pernah dipublikasikan di media massa, menjadi lebih bijaksana jika sumber tulisan dan waktu pemuatannya disertakan di akhir buku.

Ada kekhawatiran ketika mencermati judul buku dan menyimak profil guru yang diidealkan di dalamnya. Sosok guru yang diangankan Suroso adalah guru yang kurang dihargai masyarakat karena pemerintah kurang mengkondisikan untuk itu (h.60). Guru yang setiap kali dijemput siswanya, dibawakan buku dan tasnya, dituntunkan sepedanya; pendeknya guru yang selalu mendapat bungkukan kepala siswa dan orang tuanya (h.72,118,157). Jika sosok guru seperti itu yang diangankan, benarlah adanya bahwa guru itu sudah mati. Lebih tegas lagi, sosok guru seperti itu hanya ada di zaman feodal. Pertanyaannya, relevankah profil guru seperti itu untuk jaman sekarang?

Menilai citra dan profesionalitas guru sekarang ini semakin surut adalah kenyataan. Tetapi meneriakkan dengan lantang bahwa guru kini tinggal nama –in memoriam—tampaknya terlalu berlebihan. Kliping keterpurukan guru Indonesia dari waktu ke waktu karena lunturnya profesionalisme dan kecendekiaannya adalah realita yang layak dicermati –sekaligus sebagai nilai lebih dari buku ini.***
*) Penulis adalah Guru SMU Kolese de Britto Yogyakarta dan editor free lance
Read More..

Keterlibatan Ortu Dalam Pendidikan

Bersama Menatah Kebajikan Khas Siswa

Ag. Prih Adiartanto & J. Sumardiyanta


“Keterlibatan orang tua di sekolah mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap prestasi peserta didik.” Itulah kesimpulan Larry E dan Virginia A. Decker (2003), dalam bukunya Home, School, and Community Partnership. Berdasarkan lebih dari 85 riset ternyata keterlibatan keluarga memberikan keuntungan terhadap keberhasilan peserta didik, kualitas sekolah, dan desain program (kurikulum).

Ada tiga pilar yang berkaitan dengan pendidikan, yakni: orang tua (keluarga), sekolah, dan masyarakat. Orang tua adalah pendidik yang pertama dan utama. Faktanya, sebagian besar waktu hidup anak (lebih-lebih pada masa perkembangan) ada di dalam keluarga dan orang tua adalah pihak yang paling bertanggung jawab.

Seiring perkembangan jaman, peran itu semakin bergeser. Sekolah mengambil alih peran dan fungsi sentral orang tua dalam pendidikan anak. Tugas orang tua direduksi melulu sebagai sumber ketersediaan dana bagi kelangsungan pendidikan. Pragmatisme yang merajalela di pelbagai sektor kehidupan menyebabkan segala urusan pedagogi dibebankan kepada sekolah. Lembaga pendidikan formal, dari level dasar hingga menengah, yang mestinya hanya mengurusi masalah pengajaran dalam arti pengalihan pengetahuan dan keterampilan dari guru kepada siswa dibebani pula dengan persoalan edukasi dalam pengertian etis dan moral. Padahal urusan edukasi mestinya lebih menjadi porsi orang tua di rumah.

Sekolah diam-diam menjadi semacam pande besi (bengkel besi tempa). Para orang tua bisa datang kapan pun mereka suka membawa berbagai bahan logam, dengan segala kualitasnya, seperti lempengan bekas per mobil atau potongan rel kereta api untuk ditempa menjadi pisau, sabit, cangkul, kelewang, dan perkakas lainnya. Sekolah menjadi bengkel jasa tempat orang tua bisa ngadekke (memesan) perkakas yang mereka butuhkan. Asal ada bahan baku dan terjadi kesepakatan harga antara proses jual beli jasa itu selebihnya menjadi urusan bengkel. Para pemesan tahunya segalanya beres. Mereka pulang bisa membawa pisau, sabit, cangkul, atau kelewang. Persoalannya sekolah bukanlah bengkel besi tempa. Sekolah memang harus dikelola berdasarkan prinsip-prinsip manajemen ekonomi moderen seturut hukum pasar. Hukum besi efesiensi ekonomi universal yang tidak bisa ditawar.


Institusi masyarakat yang makin terkotak-kotak dalam sangkar spesialisasi dan diferensiasi rupanya memberi sumbangan besar bagi terjadinya kudeta atau pengambilalihan peran sentral pendidikan dari orang tua ke sekolah. Pendidikan dikotak-kotak ke dalam sangkar formal, informal, dan non-formal. Pendidikan formal yang berlangsung di sekolah dicirikan adanya kurikulum, pembatasan usia wajib belajar, dan pemberian sertifikat tanda kelulusan. Pendidikan non-formal lebih berorientasi ke dunia praktis dunia kerja. Pendidikan ini dijalankan oleh lembaga-lembaga kursus keterampilan. Pendidikan informal dindentikkan dengan keluarga. Pendidikan di sini berlangsung seumur hidup (long life education).

Spesialisasi dan diversifikasi itulah sesungguhnya yang menjerumuskan pendidikan melulu ke dalam urusan pengajaran bukan pendampingan dan pengasuhan. Inilah awal dari proses kelirumologi pendidikan di Indonesia. Pendidikan lalu identik dengan bangku persekolahan. Sekolah terbenam dalam kegiatan belajar mengajar. Lembaga pendidikan formal lalu menjadi tampak lapuk, usang, dan ketinggalan jaman karena masyarakat terlanjur memiliki ekpektasi bahwa tugas sekolah bukan sekedar mengajar melainkan juga mendidik.

Asas-asas pendidikan formal yang diterapkan di sekolah---seperti kemandirian, universalisme, prestasi, dan spesifisitas---berseberangan dengan asas-asas pendidikan informal yang berlangsung di rumah. Di sekolah para siswa dididik menjadi manusia mandiri. Kerja sama dalam mengerjakan tugas dibenarkan sejauh tidak mengandung unsur penipuan dan kecurangan. Itu sebabnya sekolah menerapkan larangan mencontek dan menjiplak. Kebalikannya pendidikan di rumah diam-diam membuat anak kurang mandiri. Makanan disiapkan orang tua. Mencuci pakaian dikerjakan pembantu rumah tangga. Kesulitan dalam belajar bisa dipecahkan dengan mengundang guru les privat.

Di sekolah semua siswa diperlakukan secara universal tanpa memandang jenis kelamin, latar belakang status sosial, latar belakang agama, dan latar belakang etnis. Tak heran bila sekolah menerapkan kebijakan pemakaian seragam guna meminimalkan segragasi ekonomi dan kesenjangan sosial. Di rumah anak-anak diperlakukan secara partikular, khusus, dan istimewa oleh orang tua mereka. Partikularisme ini, harus diakui, berpengaruh juga terhadap pendekatan guru terhadap para siswanya. Partikularisme itu justru yang menonjol dalam praktik pengajaran di sekolah. Perilaku guru di jaman sekarang cenderung emban cinde emban siladan (diskriminatif). Siswa-siswi bagus alus merak ati (tampan dan cantik) yang biasanya pintar dan berasal dari keluarga terpandang mendapat perlakuan khusus dan perhatian ekstra dari para guru. Siswa-siswi yang lusuh, kumal, dan berasal dari keluarga miskin cenderung disepelekan guru mereka.

Sekolah sangat menekankan prestasi akademik peserta didik. Prestasi akademik terlanjur dianggap menentukan berhasil tidaknya seseorang kelak bila terjun di tengah masyarakat sebagai kaum profesional. Di sekolah para siswa diajari kerja keras dan menghindari kegagalan. Tanpa disadari pola pengasuhan orang tua di rumah membuat anak-anak kurang menghargai achievement. Anak-anak di jaman sekarang nyaris bergelimang fasilitas dan kemudahan. Gaya hidup mereka cenderung hedonis dan konsumeristik. Itu semua mereka dapatkan nyaris tanpa mengeluarkan keringat berkat status sosial orang tua.

Sekolah juga memberlakukan asas spesifisitas (kekhususan). Konkretnya, nilai bidang studi biologi yang didapat seorang siswa tidak akan mempengaruhi perolehan nilai matematika siswa tersebut. Spesifisitas dalam penilaian berlaku untuk semua bidang studi sebagai konsekuensi lanjut dari asas kemandirian dan prestasi. Apa yang terjadi di rumah bila seorang anak naga-naganya akan gagal naik kelas karena nilainya jelek untuk bidang-bidang studi tertentu? Ada kecenderungan praktik jual beli nilai yang bertentangan dengan asas kekhususan sebagaimana dipaparkan guru-guru yang bekerja di kota-kota besar.

Modusnya, orang tua mendatangi wali kelas di sekolah atau di rumah dengan iming-iming imbalan uang atau materi bila berhasil memoles nilai anak mereka. Wali kelas, menjelang rapat kenaikan kelas, akan bergerilya dengan melakukan lobi terhadap guru-guru---terlebih guru-guru baru yang posisinya belum aman dan gampang ditekan. Proses jual-beli nilai bisa berlangsung karena pimpinan sekolah menerapkan kebijakan satu mata terbuka dan satu mata tertutup atas praktik manipulasi dan kecurangan yang jelas-jelas bertentangan dengan asas spesifisitas dalam penilaian.

Ketidakseimbangan asas-asas pendididikan di sekolah dengan asas-asas pengasuhan anak di rumah acap menjadi batu sandungan kerja sama orang tua dengan sekolah. Secara eksplisit memang kurikulum yang dirancang birokrasi pendidikan di Indonesia tidak memberikan petunjuk orang tua dengan sekolah bersinergi untuk mengatasi dilema tersebut. Kendati demikian banyak sekolah yang secara sistematis dan terencana merancang keterlibatan orang tua dengan sekolah dalam urusan kurikulum dan pendampingan kepribadian. Inisiatif dan kreativitas menggarap peluang kerja sama itu sepenuhnya tergantung dari kondisi sekolah masing-masing.

Ragam Pengalaman

Perubahan sistem pemerintahan yang sentralistik ke arah desentralisistik membawa perubahan pada sistem pengelolaan persekolahan. Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) sebagai terjemahan langsung dari School Based Management mengemuka. Lepas dari perdebatan soal kesiapan sekolah-sekolah di Indonesia menjalankan MBS (sekolah-sekolah swasta umumnya lebih siap) maupun silang pendapat tentang kegagalan dan keberhasilan MBS di negara lain seperti Amerika (yang sudah mulai sejak 1988), tampaknya ada pemahaman yang salah kaprah tentang implementasi MBS.

Pengelolaan persekolahan yang otonom dengan melibatkan stakeholder sekolah termasuk sebagian kecil orang tua dalam komite sekolah hanya diorientasikan pada pengumpulan sumbangan/dana dan fasilitas sekolah. Ada anggapan bahwa seolah-olah komite sekolah tidak berbeda dengan BP3. Partisipasi masyarakat (orang tua) selama ini pada umumnya lebih bersifat dukungan input (baca: dana), dan bukan pada proses pendidikan sebagai inti kegiatan mendidik.

Padahal, keterlibatan orang tua dalam pendidikan di sekolah seharusnya bisa dioptimalkan ke hal-hal lain di luar urusan finansial. Larry E. Decker menyatakan bahwa ada empat model keterlibatan orang tua dan masyarakat yang mampu memberikan nilai lebih terhadap keberhasilan peserta didik. Keempat model itu adalah (1) protektif, (2) transmisi sekolah ke rumah, (3) pengayaan kurikulum, dan (4) kemitraan. Dengan demikian, sungguh terbuka peluang keterlibatan orang tua dalam kegiatan pendidikan tergantung pada pilihan model yang diambil. Keterlibatan pun dapat dilakukan secara tidak langsung di rumah (terhadap anaknya sendiri) ataupun secara langsung dengan melibatkan diri dalam program-program yang direncanakan bersama staf sekolah.

Dari sisi kurikulum, prinsip implementasi Kurikulum 2004 (KBK) setidaknya meliputi: kegiatan belajar mengajar (KBM), penilaian berbasis kelas, dan pengelolaan kurikulum berbasis sekolah. Dalam kaitannya dengan KBM, proses belajar tidak hanya berlangsung dalam lingkup sekolah saja melainkan akan berlanjut ke lingkungan keluarga dan masyarakat. Dengan kata lain, orang tua sebenarnya memiliki peluang yang besar untuk terlibat aktif dalam proses KBM, minimal terhadap anaknya sendiri.

Peraturan Menteri (Permen) Pendidikan Nasional No. 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi untuk satuan pendidikan dasar dan menengah yang selama ini diperbincangkan karena tidak segera disosialisasikan memberi peluang keterlibatan orang tua dalam pelaksanaan kurikulum. Struktur kurikulum pendidikan dasar dan menengah sebagaimana diatur dalam Permen di atas dibagi menjadi tiga komponen, yakni (1) mata pelajaran, (2) muatan lokal, dan (3) pengembangan diri. Pada komponen pengembangan diri dinyatakan bahwa komponen ini bukan merupakan mata pelajaran yang harus diampu oleh guru. Kegiatan pengembangan diri difasilitasi dan atau dibimbing oleh konselor, guru, tenaga kependidikan yang dapat dilakukan dalam bentuk kegiatan ekstrakurikuler. Kegiatan ini dilakukan melalui kegiatan pelayanan konseling yang berkenaan dengan masalah diri pribadi dan kehidupan social, elajar, dan pengembangan karis peserta didik. Pada titik inilah sebenarnya keterlibatan orang tua dapat dioptimakan.

Jika peluang-peluang sebagaimana dipaparkan di atas sungguh dimanfaatkan, ada banyak kesempatan mengajak dan melibatkan orang tua dalam kegiatan persekolahan (kurikulum). Kurikulum 2004 (KBK) sungguh memberi kesempatan dan keleluasaan kepada sekolah untuk mengelola – dan dalam hal ini – memberi kesempatan kepada orang tua untuk peduli dan terlibat. Keterlibatan orang tua ini dapat ditempatkan pada jam-jam efektif belajar atau pada blok waktu tertentu yang telah direncanakan secara matang oleh bagian kurikulum.

Waktu-waktu luang setelah anak-anak menempuh ulangan blok (ulangan umum) sampai dengan penerimaan rapor adalah kesempatan yang baik untuk memberikan pemahaman tentang penjurusan di SMA (IPA, IPS, BHS), program studi di Perguruan Tinggi (PT) berikut peluang-peluang kerjanya, termasuk strategi-strategi memilih dan cara-cara belajar di PT. Sering pula kegiatan seperti penyuluhan hukum, kenakalan remaja dan konsekuensinya, narkoba dan bahayanya, etika pergaulan dilakukan untuk memberi pendampingan terhadap anak sesuai tingkat kebutuhan dan konteks yang mereka hadapi.

Sebagian besar kegiatan di atas diberikan oleh orang tua siswa. Ada beberapa alumni yang juga sekaligus orang tua siswa. Pemahaman penjurusan di SMA biasa disampaikan oleh orang tua siswa yang berprofesi sebagai guru atau dosen dengan spesialisasi jurusan tertentu atau alumni yang pernah memilih jurusan tertentu semasa SMA, dan menemukan nilai-nilai lebih pada jurusan itu sehingga mendukung profesi mereka sekarang ini. Di satu sisi, sharing dari orang tua siswa, sentuhan-sentuhan motivasi yang mereka berikan tentulah sangat berbeda jika dibandingkan dengan guru-guru yang memberikan. Di sisi lain, guru memiliki kesempatan dan terbantu untuk mengoreksi, mengolah nilai, dan mencetak rapor.

Kekhasan program studi di PT berikut peluang-peluang kerjanya selalu ditunggu-tunggu oleh siswa kelas 3. Banyak orang tua siswa yang berprofesi sebagai dosen dengan spesialiasi program studi/ilmu tertentu. Pada kesempatan ini, unsur promosi PT tempat orang tua siswa berkarya akan lebih tersisihkan oleh cinta dan perhatian orang tua untuk memberikan gambaran tentang strategi belajar di PT, kekhasan program studi dan peluang kerjanya. Pertanyaan-pertanyaan yang muncul adalah pertanyaan seorang anak kepada bapak atau ibunya.

Penyuluhan hukum, kenakalan remaja dan konsekuensinya, narkoba dan bahanyanya, atau etika pergaulan seringkali dilakukan dalam bentuk kuliah umum untuk siswa per tingkat. Materi-materi ini umumnya juga diberikan oleh orang tua siswa yang memiliki kompetensi dan profesi sesuai dengan materi kuliah umum. Setiap kali, ada saja orang tua siswa kompeten seperti pakar hukum, polisi, sipir penjara, psikolog, aktivis gerakan anti-narkoba dan memiliki relasi dengan pelaku (mantan pengguna) yang bisa dipakai sebagai model.

Pada kesempatan-kesempatan seperti ini, unsur informatif barangkali berada pada urutan yang kesekian – karena siswa kemungkinan bisa mencari referensi-referensi sendiri. Yang lebih penting, lewat kuliah umum itu terjadi dialog antara orang tua dengan anaknya. Lewat kuliah umum itu pula sekolah memberi kepercayaan dan kesempatan kepada orang tua untuk terlibat dalam pendampingan siswa. Di satu sisi, sekolah memberi ruang dialog antara orang tua dengan anak, dan di sisi lain, sekolah menempatkan orang tua sebagai penanggung jawab pokok pendidikan bagi anak-anaknya. Porsi inilah yang perlu dikedepankan jika kegiatan-kegiatan ini ingin dilakukan.

Kesempatan lain, pada saat jam-jam efektif belajar, tidak tertutup kemungkinan orang tua yang menekuni secara khusus dan ahli pada bidang studi tertentu hadir dan mengajar secara klasikal. Beberapa yang pernah dilakukan adalah pelajaran biologi (bioteknologi), bahasa Inggris (native speaker, cros culture understanding), akuntansi/ekonomi, dan matematika (kurikulum Australia). Nilai lebih dari kesempatan ini, siswa mendapatkan suasana belajar yang baru dengan keterikatan emosional tertentu (karena orang tua siswa yang mengajar), guru mendapat informasi baru (up to date), keinginan orangtua untuk memberikan sesuatu kepada sekolah dan anak-anaknya terfasilitasi. Tentulah hal ini membutuhkan perencanaan yang matang berkaitan dengan jadwal, agenda kegiatan sekolah, dan orang tua.

“Humanitas Expleta et Eloquens”

Putri pertama saya (Puella Desideria Adiartanto) bersekolah di Kelompok Bermain (KB) dan Taman Kanak-kanak (TK) Teruna Bangsa. Hal pertama yang mendorong kami (saya dan istri) memilih sekolah ini setelah survey ke sekian banyak KB/TK adalah motto/slogan yang melekat pada nama KB/TK itu: “Bersama Orang Tua Mendidik Anak”. Semboyan ini tidak berhenti sebagai slogan atau iklan pemanis penarik minat. Setiap hari, putri saya selalu pulang sekolah dengan buku “wisdom” yang berisi laporan guru atas apa yang dilakukan putri saya selama dua jam di sekolah: bagaimana sosialisasinya dengan teman, apa kemajuan yang dicapai hari itu, dan segala hal yang terjadi pada putri saya selama satu hari sekolah yang dua jam itu. Di samping laporan guru itu ada kolom yang harus setiap hari pula kami isi dan dibawa kembali ketika anak berangkat sekolah. Tanggapan atas laporan guru, harapan terhadap guru, atau bisa juga kejadian-kejadian yang dialami anak di rumah dan memerlukan perhatian guru.

Praktis semua aktivitas putri kami di sekolah bisa terpantau secara lengkap. Pun semua kegiatan putri kami di rumah juga bisa dipahami oleh guru kelas. Komunikasi timbal balik (meski hanya lewat tulisan) yang ideal untuk mendampingi anak-anak usia 4-6 tahun.

Ada satu kegiatan yang wajib diikuti oleh orang tua siswa sebulan sekali. Kegiatan ini diberi nama Waktu Belajar Bersama (WBB). WBB dilakukan sore hari dan wajib diikuti oleh orang tua siswa bersama staf guru. Ada banyak materi yang didiskusikan dalam WBB, dan materi itu berkaitan dengan program program pendampingan anak selama sebulan itu. Cara berkomunikasi dengan anak, memberi perhatian, memberi reward-punishment kepada anak di rumah adalah sebagian kecil materi WBB. Lagu-lagu “character building” yang baru bulan itu pun dilatihkan agar orang tua dapat membantu anak belajar menyanyi dan menerangkan maknanya di rumah.

Semboyan “bersama orang tua mendidik anak” bukan isapan jempol. Orang tua secara konkrit sungguh dilibatkan dalam proses pendidikan anak. Tidak jarang pula orang tua yang memiliki keahlian khusus (menari, bermain musik, berbahasa Inggris) dilibatkan dalam kegiatan belajar mengajar pagi hari.

Titik penting paparan pengalaman di atas terletak pada bagaimana upaya sekolah untuk memberi kesempatan seluas-luasnya kepada orang tua siswa terlibat dalam proses pendidikan anak. Buku “wisdom” dan WBB hanyalah alat dan wadah keterlibatan itu, dan tentu akan memiliki kendala tersendiri jika dilaksanakan pada tataran SMP/SMA dengan murid yang berasal dari berbagai wilayah di Indonesia. Namun bukan hal yang mustahil jika diagendakan secara cermat. Pertemuan orang tua/wali siswa dengan pihak sekolah (direksi-guru-wali kelas) secara bersama-sama minimal satu tahun sekali kira bukan sesuatu yang tidak mungkin dilakukan.

Informasi akademik, perkembangan studi dan perilaku siswa adalah materi penting yang bisa didialogkan dalam forum seperti ini. Tentulah forum-forum seperti ini harus menghilangkan kecurigaan bahwa sekolah akan menarik iuran sebagaimana terjadi setiap kali sekolah membuat pertemuan bersama dengan orang tua.

Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) memberi kesempatan besar bagi terjadinya sinergi orang tua dengan sekolah dalam pendampingan anak. Berikut merupakan contoh sederhana sinergi yang sudah melembaga dan menjadi tradisi di SMA Kolese de Britto Yogyakarta. Wali kelas pada awal tahun ajaran baru menyiapkan dan menyusun buku catatan kemajuan akademik dan kepribadian untuk masing-masing siswa kelas perwaliannya. Buku itu memuat berbagai informasi esensial seperti catatan presensi, nilai-nilai akademik yang disalin dari kartu perolehan nilai, kasus-kasus tentang perilaku destruktif, dan catatan-catatan tentang kebajikan-kebajikan khas setiap siswa. Berdasarkan buku tersebut wali kelas bisa mengenali dengan akurat kekuatan khas (signature strength) maupun kelemahan khas (signature weakness) masing-masing siswa yang menjadi tanggung jawab perwaliannya.

Pembagian rapor mid semester dirancang sekolah menjadi salah satu ajang pertemuan orang tua dengan wali kelas. Buku catatan kemajuan akademik dan kepribadian itulah yang dipakai sebagai bahan konsultasi tatap muka wali kelas saat bertemu dengan orang tua terutama untuk siswa-siswa perwalian yang menghadapi kesulitan. Kerja sama terjalin dengan sendirinya mengingat segala sesuatunya dimulai dialog penuh itikhad baik. Wali kelas bekerja berdasarkan data. Data-data itu selanjutnya dipakai orang tua guna memotivasi anaknya di rumah. Orang tua lalu sadar akan keterbatasan dan kelemahan anak mereka. Kemunduran akademik dan defisit kepribadian anak biasanya akibat langsung dari keteledoran orang tua yang kurang memperhatikan anak-anak mereka. Dialog anak dengan orang tua pasti bergulir karena masing-masing menyadari kelemahan mereka. Komunikasi yang berlumur amarah dan makian dengan spiral tuduh menuduh yang semakin menanjak pun bisa dihindarkan.

Perhatian guru, wali kelas, staf pendampingan (bimbingan konseling) di bawah koordinasi wakil kepala sekolah bidang kesiswaan dan kurikulum tidak hanya terfokus pada siswa-siswa yang bermasalah secara akademik maupun kepribadian. Para siswa yang mampu menunjukkan prestasi akademik dan keutamaan kepribadian seperti kepemimpinan, seni, dan olah raga mendapatkan penghargaan berupa kaos atau jaket almamater yang didesain khusus (limited edition). Pembagian ini bisa berlangsung secara massal di hadapan para orang tua saat mereka di undang ke sekolah entah dalam acara pembagian rapor maupun pelepasan siswa kelas 3 SMA. Pembagian reward ini sangat berfaedah untuk menumbuhkan perasaan bangga dan berharga anak di hadapan orang tua mapun pendidik mereka.

Sepele ning dadi gawe (sederhana tapi bermakna). Mengapa? Karena model pendampingan siswa yang lazim diterapkan kolese-kolese di seluruh dunia itu menurut Martin E.P. Seligman (2003), guru besar psikologi Universitas Penssylvania Amerika Serikat, dalam buku Authentic Happiness, bertujuan mengeksplorasi kebajikan khas (signature strength) para siswa. Kebajikan khas siswa itu terdiri dari enam bagian. Pertama, kearifan dan pengetahuan (terdiri dari kuriositas, kecintaan belajar, keterbukaan, kecerdikan, kecerdasan sosial, horison, dan perspektif). Kedua, Keberanian (meliputi kekuatan-kekuatan perihal ketegaran, keuletan, integritas, dan ketulusan). Ketiga, humanisme (meliputi keutamaan seperti kemurahan hati dan kemampuan untuk mencintai-dicintai). Keempat, keadilan (terdiri dari sosialisasi bermasyarakat, egalitarian, dan kepemimpinan). Kelima, kebersahajaan (meliputi kemampuan mengendalikan diri, kehati-hatian, dan kerendahan hati). Keenam, spiritualitas dan transendensi (meliputi kemampuan mengapresiasi keindahan, bersyukur, menyalakan harapan, kemampuan memaafkan, humor, dan antusiasme). Muara dari pendidikan yang menyantuni kebajikan khas siswa adalah humanitas expleta et eloquens (kemanusian yang penuh dan sanggup mengungkapkan diri).

Pelibatan orang tua dalam proses pendidikan menjadi sangat esensial karena pedagogi bagi para siswa sekolah dasar hingga sekolah menengah menurut Martin Seligman merupakan proses menatah kebajikan khas (strengthening drift) siswa. Pedagogi jelas berbeda dengan andragogi---pendidikan untuk kaum dewasa di perguruan tinggi. Model pendampingan siswa yang menuntut keterlibatan penuh orang tua ini, meminjam kerangka berpikir Danah Zohar dan Ian Marshal (2004), dua pendidik dari Universitas Oxford Inggris, dalam buku Spiritual Capital: Wealth We can Live By Using Our Rational, Emotional, and Spiritual Intelegence to Transform Ourselves and Corporation telah menerapkan prinsip-prinsip edukasi seperti keluwesan (spontanitas), terbimbing visi dan nilai, holisme, kepedulian, pembingkaian ulang masalah, mengambil manfaat dari kemalangan, dan kerendahan hati.

Sinergi yang tidak populer, menuntut totalitas, melelahkan, dan menguras energi itu jelas bermakna, bernilai, dan mengabdi tujuan-tujuan mulia. Almarhum Bunda Theresa, orang suci dari Kalkuta, India, punya alegori yang menguatkan, meneguhkan, dan memberdayakan pendidik dan orang tua yang mau total mendampingi peserta didiknya. Alegori yang ditemukan dalam buletin lusuh SMA swasta di Khatmandu, Nepal, tempat Bunda Theressa pernah mengajar di tahun 1950-an itu berbunyi demikian, “Orang acap tak bernalar. Biar begitu maafkanlah mereka. Bila engkau baik, orang akan menuduhmu menyembunyikan motif pribadi. Biar begitu tetaplah bersikap terpuji. Bila engkau mendapat sukses, engkau bakal mendapat teman-teman palsu dan musuh-musuh sejati. Biar begitu tetaplah fokus pada keberhasilan. Bila engkau jujur orang akan menipumu. Biar begitu tetaplah jujur. Apa yang engkau bangun selama bertahun-tahun mungkin akan dihancurkan penjahat dalam semalam. Biar begitu tetaplah bekerja keras. Bila engkau menemukan kebahagiaan orang akan iri. Biar begitu tetaplah berbahagia. Kebaikan yang engkau lakukan hari ini dilupakan orang keesokan hari. Biar begitu tetaplah berbuat baik.” ***
Read More..

Pendidikan Berkeadilan Sosial

Berbagi pengalaman:

SUMBANGAN SEKOLAH BAGI PENDIDIKAN
BERKEADILAN SOSIAL

Ag. Prih Adiartanto
Guru SMA Kolese De Britto


Pengantar

Tomoe-Gakuen, besi tua gerbong kereta itu adalah “sekolah kehidupan” bagi Totto Chan.
Di sana ia diajar menggunakan kebebasannya untuk menumbuhkan rasa tanggung jawab,
menumbuhkan cinta untuk sesama. Itulah yang ditemukan
gadis kecil kelas 1 SD setelah ia dikeluarkan dari sekolah asal
karena kenakalannya


(Kuroyanagi, Totto Chan, Gadis Kecil di Jendela)


Alangkah indahnya jika sekolah menjadi tempat di mana anak-anak menemukan kegembiraan dan kebahagiaannya. Di sana anak-anak belajar, berteman, bermain, menjadi dirinya, dan mengembangkan bakatnya. Di sana anak-anak memperoleh perlindungan dari ancaman-ancaman yang disengaja atau tidak datang dari masyarakatnya. Di sana anak-anak aman mempersiapkan masa depannya. Begitulah Sindhunata mengawali tulisan “tanda-tanda zaman”-nya dalam BASIS edisi Januari-Februari lima tahun yang lalu.

Benarkah sekolah-sekolah kita saat ini menjadi tempat yang indah sebagaimana diilustrasikan di atas? Sungguh memprihatinkan melihat anak-anak kita di ruang-ruang kelas saat ini. Anak-anak yang murung karena beban belajar dan kurikulum yang sedemikian padat. Anak-anak yang takut dengan hantu bernama Ujian Nasional (UN). Anak-anak yang kelelahan karena sepulang sekolah masih harus les ini-itu agar memperoleh angka yang baik. Sementara beberapa anak mati kaku gantung diri karena tidak bisa membayar iuran ba, bi, dan bu.

Betapa sekolah (baca: pendidikan) telah banyak menyeleweng dari tugasnya yang paling dasariah: membantu anak didik menjadi manusia yang bebas, merdeka, dan berbudaya. Sekolah mestinya menjadi dasar tumbuhnya kehidupan berdemokrasi yang adil. Jangan kita bermimpi akan keadilan dengan sendirinya terjadi, jika kita tidak mengupayakan suatu sistem persekolahan yang membebaskan anak didik menjadi dirinya dan dengan demikian juga menghargai orang lain untuk dapat menjadi dirinya sendiri.


Tulisan berikut ini dimaksudkan sebagai sarana berbagi sedikit pengalaman, bagaimana sekolah mengupayakan dan menghidupi pendidikan yang berkeadilan sosial. Pengalaman di sekolah lain barangkali berbeda dan justru memperkaya satu sama lain. Tentu saja semua uraian ini berangkat dari situasi faktual yang ada di lapangan. Untuk itu, berikut ini akan dipaparkan secara urut: potret persekolahan saat ini, beberapa pengalaman tentang upaya menghidupi semangat bereadilan sosial dalam proses pendidikan dan catatan kecil sebagai penutup dari sharing ini.

Non Scholae Sed Vitae Discimus

“Sekolah bukan melulu untuk sekolah itu sendiri, tetapi sekolah adalah belajar tentang hidup.” Begitulah kira-kira terjemahan bebas dari pepatah Latin di atas. Pepatah ini layak dimunculkan mengingat dalam iklim kapitalis sekarang ini, esensi sekolah sudah berubah menjadi “tukang jahit”. Sekolah diam-diam menjadi semacam pande besi (bengkel besi tempa). Para orang tua bisa datang kapan pun mereka suka membawa berbagai bahan logam, dengan segala kualitasnya, seperti lempengan bekas per mobil atau potongan rel kereta api untuk ditempa menjadi pisau, sabit, cangkul, kelewang, dan perkakas lainnya. Sekolah menjadi bengkel jasa tempat orang tua bisa ngadekke (memesan) perkakas yang mereka butuhkan. Asal ada bahan baku dan terjadi kesepakatan harga antara proses jual beli jasa itu selebihnya menjadi urusan bengkel. Para pemesan tahunya segalanya beres.

Pragmatisme yang merajalela di pelbagai sektor kehidupan menyebabkan orang lebih mendewakan hasil dari pada proses. Ijasah formal sangat dibanggakan. Nilai-nilai ujian adalah tujuan akhir yang harus mati-matian diperjuangkan. Lulus lebih cepat dari umumnya orang bersekolah menjadi prestise karena berhasil masuk kelas akselerasi.

Ada yang hilang dari proses pendidikan di sekolah, yakni: pendidikan nilai, pembentukan karakter. Sekolah hanya menjadi tempat mengasah otak dan kurang mengasah hati. Sekolah masih berorientasi pada kecerdasan kognitif (IQ) dan belum berorientasi ke kecerdasan majemuk, meski ketika terjun ke dunia kerja lebih dituntut integritas pribadi daripada kemampuan kognitif. Mengapa? Karena hasil akademis lebih bisa membawa prestise sekolah. Juara olimpiade sains dalam percaturan dunia lebih membanggakan negara daripada sekian puluh ribu siswa harus drop-out karena tidak bisa membayar sekolah. Ranking nomor wahid dari hasil UN, rata-rata nilai UN yang tinggi lebih membanggakan ketika di-koran”-kan.

Dalam pendaftaran sekolah pun calon siswa akan diranking dan dikelompokkan berdasar nilai UN. Calon siswa dengan nilai hebat akan terkumpul di sekolah negeri favorit. Agar nilai UN membanggakan, setiap sore lembaga-lembaga bimbingan belajar dengan ongkos yang tidak murah selalu penuh sesak. Mereka yang memiliki ekonomi lebih kuatlah yang bisa menikmati fasilitas di bimbingan-bimbingan belajar. Dengan asumsi mereka-mereka yang berkantong tebal pula yang umumnya memperoleh nilai bagus. Dan mereka-mereka pulalah yang berhak mengisi bangku-bangku sekolah negeri favorit yang nota bene disubsidi oleh pemerintah. Lalu, di manakah anak-anak yang berasal dari keluarga dengan ekonomi pas-pasan? Anak-anak yang tidak kebagian kue fasilitas sekolah negeri favorit? Umumnya mereka ada di sekolah-sekolah swasta pinggiran, yang masih harus membayar biaya ini-itu karena sekolah ini memang hanya bisa hidup karena uang bayaran siswa. Dan hingga saatnya ”tuhan” yang bernama UN kembali harus menggelar pengadilan terakhir.

Ironis. Sekolah yang seharusnya menjadi tempat menyenangkan dan membudayakan anak berubah menjadi arena persaingan yang tidak sehat. Lebih aneh lagi, karena interpretasi Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) yang salah kaprah, sekolah-sekolah negeri favorit justru menarik sumbangan yang tahun ini sungguh mengejutkan jumlahnya. MBS sebagai konsekuensi bergulirnya otonomi daerah ibarat sekeping mata uang bermuka dua.. Di satu sisi menghasilkan liberalisasi pendidikan dan di sisi lain mendorong otonomi sekolah atau lebih tepat ”privatisasi”. Begitulah kenyataan ini mengalir dan berulang tanpa ada yang bisa dan berniat menghentikannya; sehingga tidak berlebihan kiranya jika Darmaningtyas menjuduli bukunya dengan ”Pendidikan Rusak-Rusakan”.

Beberapa Pengalaman

Seleksi masuk SMA Kolese de Britto tidak didasarkan pada nilai UN. Calon siswa menjalani seleksi dalam beberapa tahap. Pertama, wawancara untuk melihat kepribadian dan potensi anak untuk berkembang secara optimal. Pada tahap ini anak dikenali secara personal, karena pola pendampingan di sekolah anak akan didampingi sesuai kekhasan pribadinya (cura personalis). Kedua, siswa menjalani Tes Potensi Akademik (TPA). Tes ini bukan mengukur kemampuan akademis, tetapi lebih difokuskan pada potensinya dan kemungkinannya berkembang secara optimal. Pada gilirannya, ketika siswa sudah diterima, TPA ini akan dilengkapi dengan tes kepribadian (EPPS-misalnya) sehingga sekolah setidaknya punya data yang bisa membantu untuk mengenal karakter pribadi masing-masing anak dan inilah salah satu bekal untuk mendampingi anak secara personal. Ketiga, siswa menjalani tes kognitif yang mencakup bahasa, IPS terpadu, matematika, dan IPA terpadu. Dari proses seleksi ini tampak bahwa siswa lebih dilihat dari kepribadian dan potensi akademis dan bukan berapa nilai UN-nya. Dengan kata lain, sekolah memberi kesempatan yang sama (adil) kepada semua pendaftar untuk menjalani ketiga tahapan tersebut.

Ketika siswa dinyatakan diterima, orang tua siswa diundang hadir dalam pertemuan umum dengan staf yayasan dan direksi sekolah. Dalam pertemuan itu dipaparkan visi-misi sekolah, arah pendidikan dan pendampingan, dan pembiayaan sekolah berikut pemanfaatannya secara transparan. Sampai pada bagian ini, orang tua diberi kebebasan untuk meneruskan proses administrasi atau tidak. Pertemuan ini sekaligus dilaksanakan untuk membangun komitmen dengan orang tua bahwa orang tua perlu terlibat aktif dalam pendampingan siswa. Minimal setahun sekali, orang tua/wali wajib hadir ke sekolah untuk menjalin komunikasi dan mengoptimalkan pendampingan siswa.

Selesai pertemuan umum, orang tua diundang hadir dalam wawancara keuangan dengan tim dari yayasan. Proses wawancara tentu tidak lagi bertele-tele mengingat dasar dan prinsip pendidikan di De Britto sudah dipaparkan dalam pertemuan umum. Pun gambaran pembiayaan persekolahan. Prinsip yang dikedepankan dalam wawancara ini adalah orang tua yang memiliki kemampuan keuangan lebih akan memberikan sumbangan secara lebih, sementara orang tua dengan ekonomi kurang akan tersubsidi oleh mereka yang berlebih. Inilah esensi subsidi silang. Yang kuat membantu yang lemah secara konkrit. Maka sumbangan pendidikan maupun SPP antar siswa pun pasti tidak sama.
Tentulah proses semacam ini membutuhkan waktu, perhatian, tenaga, dan biaya lebih. Tetapi ditilik dari proses dialog, membangun kesepahaman, sekaligus kualitas saringan akan menjanjikan sesuatu yang baik. Untuk itulah proses seleksi dilaksanakan jauh hari bahkan sebelum calon siswa lulus SMP. Ketika orang tua mendapat perlakuan secara adil, dan dalam proses pendampingan di sekolah pun diberi kesempatan untuk terlibat, maka kerjasama secara terbuka dan proporsional akan terwujud.

Pun ketika siswa mendapat perlakuan yang adil dibarengi dialog yang terbuka, ketika terjadi pelanggaran-pelanggaran akibat ketidaktertiban, nilai-nilai keadilan akan ”membadan” dalam diri siswa. Seorang siswa yang terlambat beberapa kali meski hanya lima menit karena selalu bangun kesiangan barangkali harus diberi sanksi atas ketidakmauanberubahnya dibandingkan dengan seorang siswa yang terlambat lebih dari satu jam pelajaran karena harus mengantar ibunya berobat ke rumah sakit. Dialog, saling mendengarkan, dan memahami konteks siswa kiranya lebih perlu dikedepankan daripada sekedar memberi sanksi atas ketidaktertiban. Dialog yang efektif tentulah dialog yang dilandasi rasa percaya. Anak akan merasa dihargai dan pada akhirnya memiliki rasa percaya diri ketika ia dipercaya.

Kesempatan berdialog dengan anak pun difasilitasi sekolah dengan menjadwal jam perwalian seminggu sekali. Suasana jam perwalian bukan suasana belajar-mengajar. Wali kelas hadir di kelas perwaliannya setiap Kamis pada pelajaran jam ke-6. Anak bisa berdialog, berdiskusi, dan berefleksi atas situasi kegiatan belajar mengajar atau kondisi kelas selama seminggu yang lalu. Evaluasi atas metode dan pola komunikasi guru mata pelajaran, perilaku teman di kelas, sampai persoalan-persoalan pribadi siswa sejauh boleh diketahui seluruh anggota kelas bisa diungkapkan pada jam perwalian.

Kepedulian, perhatian kepada teman dan orang lain akan selalu terasah dan membadan dalam diri siswa. Studi ekskursi dalam bentuk pengamatan sektor-sektor formal dan non-formal di sekitar sekolah, live-in, aksi sosial kiranya juga menjadi alat pengasah kepekaan dan analisis sosial siswa. Bantingan (sumbangan uang secara sukarela) untuk teman yang memerlukan—tanpa harus diarahkan guru—sudah berjalan secara spontan.

Suatu pengalaman mengharukan, ketika ibu seorang siswa sakit parah sehingga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari pun tidak cukup, si anak dianjurkan oleh teman-temannya untuk membawa nasi bungkus setiap hari. Dan setiap hari pula teman-teman lain selalu membeli dan mereka bisa makan bersama sembari meringankan beban keuangan temannya. Si anak tidak malu karena menggantungkan diri pada bantuan temannya, sementara teman lain bisa membantu tanpa harus menimbulkan ketergantungan pada si anak. Ketika seorang siswa tidak bisa mengambil ijasah karena SPP menunggak tiga bulan, secara spontan teman-teman sekelas membuat pengumuman, mengedarkan sumbangan, dan uang yang terkumpul lebih dari cukup untuk menutup tunggakan SPP dan siswa bisa mengambil ijasah.

Memberi kebebasan anak untuk menentukan pilihan secara bertanggung jawab adalah model pendampingan yang tampaknya tepat bagi remaja laki-laki sekarang ini. Pilihan untuk tidak memakai seragam, pilihan untuk memakai sepatu sandal, pilihan untuk memanjangkan rambut tentulah didasari oleh semangat ini. Di sisi lain, teladan, inilah kunci dari munculnya sikap saling berbagi sebagaimana di paparkan di atas. Nasihat Dorothy Law Nolte dalam bait-bait puisinya tentang perlakuan dan kondisi anak tumbuh kiranya bukan sekedar tumpukan kata-kata indah. Bila anak tumbuh dalam penerimaan, ia akan belajar mencintai. Bila anak mendapat haknya, ia akan bertindak adil, dan seterusnya.


Penutup

Memahami sharing di atas tuntulah segera tergambar betapa repotnya ketika (jika boleh disebut) mengupayakan pendidikan yang adil bagi anak-anak kita. Benar, subsidi silang tidak perlu disarankan digembar-gemborkan tanpa hasil yang konkrit, tetapi perlu dilakukan dengan menyediakan waktu dan kesempatan yang berlebih. Berdialog dengan anak untuk meluruskan proses berpikir tentu pula butuh energi ekstra dan akan lebih mudah jika itu diubah menjadi komando atau perintah. Tetapi kita hal-hal di atas sudah menjadi kebiasaan, sudah membadan, dan dipahami seluruh anggota komunitas sekolah, tentulah secara spontan hal itu akan teraktualisasikan.

Persoalannya sering berkutat pada bagaimana membangun paradigma yang sama dengan institusi lain (diknas-misalnya) sehingga tidak memandang konteks pendidikan di De Britto hanya dari bajunya yang tidak seragam dan rambutnya yang gondrong.

Pendidikan perlu membuat manusia terkejut, mengapa ia begitu tertutup, padahal kesadarannya menuntut, hanya bila mau terbuka maka ia akan bahagia. Pendidikan juga perlu membuat manusia kaget, mengapa ia begitu takut, padahal kesadarannya menuntut agar ia berani untuk memperjuangkan hidupnya. Pendidikan juga harus membuat ia benci terhadap dirinya sendiri, mengapa ia membenci dan menindas orang lain, padahal kesadarannya menuntut bahwa hanya dengan saling mencintai dan hormat satu sama lain, ia akan menjadi manusia bahagia dalam masyarakatnya. Pendidikan akhirnya harus membuat manusia bebas, tidak lagi mau diperalat oleh kekuatan yang telah lama memperdayainya. Karena pendidikan semacam itulah manusia bisa menjadi dirinya sendiri. Itulah larik-larik terakhir Sindhunata dalam tanda-tanda zaman-nya pada majalah dan edisi yang sama.***

-- dipresentasikan dalam diskusi Peran Pendidikan Bagi Keadilan Sosial di AMIKOM, Dinamika Edukasi Dasar (DED) Forum Mangunan, dan dimuat dalam buku terbitan DED --
Referansi

Adiartanto, AG. Prih dan J. Sumardianta, 2006. ”Menatah Kebajikan Khas Siswa”, dalam BASIS, No. 07-08 Tahun ke-55 Juli-Agustus.

Direktorat Dikmenum, 2000. Menejemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah. Jakarta: Depdiknas.

Darmaningtyas, 2005. Pendidikan Rusak-Rusakan. Yogyakarta: LKIS

Nolte, Dorothy Law. ”Dalam Kondisi Bagaimana Anak Anda Tumbuh?”

Provinsi Indonesia Serikat Yesus, 1987. Ciri-Ciri Khas Pendidikan Pada Lembaga Yesuit. Yogyakarta: Kanisius

Sindhunata, 2001 ”Tanda-Tanda Zaman: Awas Pedagogi Hitam” dalam BASIS, No. 01-02 Tahun ke-50 Januari-Februari.

Read More..