Prolog...

In this part of pilgrim, I pick up these scattering notes along the pathway. Whether they are friend’s words or mine that is touching and inspiring. Maybe, in these traced footprints, there are memories worth reflected, there is flame that flare up spirits, and there are inspirations that flashing imaginations. Hope you love reading my notes.

One Minute Wisdom

Spoon boy: Do not try and bend the spoon. That's impossible. Instead only try to realize the truth. Neo: What truth? Spoon boy: There is no spoon. Neo: There is no spoon? Spoon boy: Then you'll see that it is not the spoon that bends, it is only yourself.

The Nature of Things

Here is the Zen Story:

Two monks were washing their bowls in the river when they noticed a scorpion that was drowning. One monk immediately scooped it up and set it upon the bank. In the process he was stung. He went back to washing his bowl and again the scorpion fell in. The monk saved the scorpion and was again stung. The other monk asked him, "Friend, why do you continue to save the scorpion when you know it's nature is to sting?"

"Because," the monk replied, "to save it is my nature."


(Another version of this story describes a fox who agrees to carry a scorpion on its back across a river, upon the condition that the scorpion does not sting him. But the scorpion does indeed sting the fox when they are in midstream. As the fox begins to drown, taking the scorpion with him, he pleadingly asks why the scorpion has jeopardized both of them by stinging. "Because it's my nature." This story sometimes is attributed to Native Americans lore.)

1 komentar:

  1. Masta_Mind mengatakan...
     

    saya belum pernah dengan versi yg ini,yg saya dengar lebih mirip versi yg kedua hanya saja bukan rubah tapi katak yg menyeberangkan..

    anyway,saya mau share sesuatu yg sangat berarti bagi urip saya ini pak.
    Cerita ini selalu menarik bagi saya. Semua ajaran(dan kisah) zen selalu intinya berpusar pada pikiran dan 'nature' dari pikiran - karenanya pencerahan tahap awal di dalam zen disebut 'seeing the nature'(tanpanya seseorang tak bisa menjadi 'dharma heir' dari seorang zen master).Begitu juga kisah ini,adalah sebuah analogi yg brilian atas mekanisme pikiran kita.Sayangnya hanya segelintir orang yg paham makna cerita ini,bahkan di kalangan Buddhis sendiri

    Premis awal yg perlu diterima terlebih dahulu di sini adalah premis Buddhis bahwa penderitaan adalah kerja pikiran - bukan kerja obyek eksternal.100% tanggungjawab pikiran.Banyak orang, terutama di kalangan Buddhis,yg bisa menerima premis ini secara intelektual(karena memang ini inti ajaran Buddha),namun penerimaan secara intelektual ini ternyata tak banyak dampaknya(walau tak dipungkiri bahwa penerimaan secara intelektual sudah sangatlah berarti, dan lebih banyak lagi orang yg less fortunate untuk bisa berkenalan dengan konsep ini).Nyatanya,kita tahu demikian, namun tetap menderita.Banyak orang kenal konsep emptiness, banyak orang membaca buku Buddhis,namun tetap menderita.Tak ubahnya scorpion yg TAHU bahwa menyengat sang katak(atau rubah)akan membawa kematian, namun toh dia tetap lakukan.

    Tetapi analogi cerita ini tentu tak hanya berbicara sedangkal itu.Tidak sekedar tentang Tahu. Lebih lanjut,bila kita mau mengamati pikiran(secara benar),akan nampak bahwa KESADARAN ADALAH PUSAT GRAVITASI PIKIRAN(Jack Kornfield,WiseHeart),artinya kita (bahkan) tak perlu melakukan apa2 pikiran sudah akan kembali dengan sendirinya ke kesadaran(dan dengan demikian adalah syarat kebahagiaan).Berpraktek dengan pikiran ibarat membiarkan ampas dari teh yg habis diaduk tenang dan dengan demikian settle di dasar cangkir.Dengan kata lain,saya benar2 yakin sekarang pak,bahwa kita menderita itu benar2 karena pikiran kita tak mau diam/anteng,karena PIKIRAN KITA 'KETONTO',kalo saja mau anteng,pikiran akan selalu kembali ke kesadaran. Dan toh,paradoksnya,walau saya 'menyaksikan' itu sendiri,saya masih menderita(walau sudah berkurang separo lebih cengkeramannya).Itu kenapa banyak orang meditasi yg juga masih menderita.

    Di sini,saya sadar bahwa pikiran kita memang seperti scorpion - hanya saja,lebih tepatnya, YG DISENGAT ADALAH DIRINYA SENDIRI.Kita sudah tahu,dan merasakan,itu sakit,namun tetap melakukannya.
    Kenapa? Itulah yg menjadi salah satu obyek meditasi(meditasi huato/Koan)dalam zen - karena penjelasan intelektual samasekali tak akan menyentuhnya/membantu sedikitpun.Karenanya intelek bukan elemen signifikan dalam zen,karena intelek hanya elemen sangat superficial dari pikiran.Yg dibutuhkan untuk menghadapi penderitaan yg kontinyu adalah juga determinasi yg kontinyu(dan paradoksnya adalah determinasi bukan untuk aktif, namun justru untuk anteng)hingga ketika kita terbiasa dengan kesadaran,(konon)kita akan ganti 'ketonto' oleh kesadaran hingga fase 'seeing the nature'.

    Seeing the nature adalah (konon)pengalaman melihat sendiri kenapa pikiran kita continuously menyakiti diri kita sendiri,dan pengalaman ini secara 100%merubah psyche seseorang(konon juga-barangkali menurut psikolog2 seperti Jung dan Erich Fromm inilah integrasi,walau sejenak, pikiran conscious dan subconscious).

Posting Komentar